Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita. Foto : Medcom.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita. Foto : Medcom.

Menperin Optimistis Impor Gula Berkurang dengan Realisasi Investasi

Ekonomi gula
Ilham wibowo • 06 Januari 2020 20:45
Jakarta: Pemerintah terus mengupayakan pemenuhan bahan baku bagi kelangsungan pertumbuhan industri makanan dan minuman. Kehadiran investasi terus didorong agar bisa mengurangi ketergantungan impor seperti kebutuhan industri terhadap produk gula kristal putih atau rafinasi.
 
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan impor gula rafinasi pada 2020 masih tetap jadi pilihan dalam pemenuhan bahan baku sektor industri di Tanah Air. Alokasi impor yang dikeluarkan yakni sebesar 3,2 juta ton.
 
"Impor yang dibutuhkan oleh industri dan berdasarkan data Kemenperin, berdasarkan masukan dari pelaku industri kebutuhan gula itu per tahun sebesar 3,2 juta ton," kata Agus ditemui di kantor Kemenperin, Jakarta Selatan, Senin, 6 Januari 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Gula yang dibutuhkan industri memiliki standar khusus yang belum bisa dipenuhi produsen gula domestik. Impor perlu dilakukan agar industri di Tanah Air yang melibatkan ribuan tenaga kerja mesti memiliki jaminan terus berjalan.
 
"Mau tidak mau karena belum ada industri di dalam negeri yang supply tentu harus kita lakukan impor agar bisa bergerak," paparnya.
 
Namun demikian, sejumlah rencana telah dirancang agar alokasi impor gula rafinasi terus berkurang. Menurut Agus, pihaknya telah mengusulkan program revitalisasi untuk pabrik gula milik BUMN maupun BUMD yang saat ini masih beroperasi tetapi kurang maksimal.
 
Modernisasi fasilitas peralatan produksi pun telah didorong dengan menghadirkan pendanaan dari investor asing yang berpengalaman di bidang gula. Saat ini, penjajakan telah dilakukan dengan perusahaan Taiwan Sugar Corp yang menyatakan berminat untuk investasi pabrik gula di Indonesia.
 
"Dua Minggu lalu kami bertemu konglomerat di Taiwan, kami bertemu langsung dengan pimpinannya dan sebetulnya mereka sudah siap investasi tapi ada syarat yang mereka butuhkan sperti lahan," papar Agus.
 
Taiwan Sugar Corp bahkan sudah melakukan survei dalam tiga tahun terakhir di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Mereka membutuhkan lahan seluas 50 ribu ha yang berada dekat dengan akses distribusi logistik.
 
"Ada daerah yang bisa siapkan lahan, saya belum bisa buka daerah itu, tapi saya yakinkan sudah ada dan kami sampaikan ke Taiwan Sugar Corp," ujarnya.
 
Kehadiran investor diyakini berdampak positif bagai ketersediaan bahan baku. Pemanfaatannya pun bisa berkontribusi pada penurunan defisit neraca perdagangan.
 
"Mereka sampaikan kepada kami mereka punya minat, beli atau mitra perusahaan gula nasional yang sekarang sedang kesulitan atau tidak beroperasi. Kalau mereka bisa masuk sebagai investor, industri tidak fungsional akan lebih cepat," ujar Agus.
 
Agus pun bakal mengajak para investor lainnya untuk turut bergabung di sektor-sektor industri pengolahan bahan baku. Ketersediaan gula dalam negeri pun diharapkan bisa ditutup dengan investasi industri di Tanah Air yang terealisasi secara maksimal.
 
"Ada konsep lain yang bisa dilakukan calon investor lain di pabrik gula yang utility rendah atau tidak beroperasi sama sekali. Investor bisa bergabung ke revitalisasi pabrik gula," pungkasnya.

 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif