"Potensi bahan baku logam di dalam negeri yang melimpah dan belum dimanfaatkan secara optimal merupakan peluang yang baik untuk meningkatkan daya saing produk mother of industry ini," kata Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Jumat (26/8/2016).
Dia menambahkan, industri logam disebut sebagai mother of industry karena produk logam dasar merupakan bahan baku utama bagi kegiatan sektor industri lain, di antaranya industri otomotif, maritim, elektronika, serta permesinan dan peralatan pabrik. "Salah satu yang perlu dikembangkan saat ini adalah logam rare earth atau tanah jarang," ujarnya.
Logam tanah jarang, menurut Airlangga, dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan magnet energi. Material ini telah diaplikasikan untuk mobil hybrid. "Kami juga tengah melakukan riset di Balai Besar Logam dan Mesin, Bandung, agar bisa dimanfaatkan oleh industri dalam meningkatkan daya saing produk," paparnya.
Di samping itu, Airlangga menegaskan, perlu adanya keberpihakan pemerintah terhadap perlindungan produk industri dasar tersebut untuk menekan penggunaan jumlah produk impor dan mendorong tumbuhnya industri logam dalam negeri.
Dalam hal ini, Kemenperin memfokuskan pada Program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN). "Program P3DN merupakan salah satu dukungan strategis yang diharapkan menjadi pemicu penggunaan produk logam dalam negeri, terutama terhadap proyek-proyek yang dibiayai oleh APBN," jelasnya.
Program P3DN merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mendorong masyarakat maupun badan usaha agar lebih menggunakan produk dalam negeri. Selain itu, melalui P3DN, dapat memberdayakan industri dalam negeri melalui pengamanan pasar domestik, mengurangi ketergantungan kepada produk impor, serta meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News