Dia menyatakan hal ini tak berpengaruh karena sektor elektronik sudah siap diisi oleh investor dari negeri Tiongkok yang terus memperluas investasinya.
"Realisasi investasi yang masuk ke Indonesia meningkat pad Januari bila dibanding tahun lalu. Jadi penutupan usaha itu tidak akan berpengaruh, Tiongkok saja perluas investasi elektroniknya ke Indonesia. Jadi, saya pikir tidak ada masalah," tegas Franky, ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (4/2/2016).
Penutupan pabrik Toshiba dan Panasonic di Indonesia, diakui Franky karena kondisi ekonomi saat ini sedang mengalami pelemahan. Bukan hanya industri elektronik saja, pelambatan ini juga menghantam industri padat karya seperti makanan dan minuman serta tekstil.
Dia menegaskan pemerintah selalu terbuka terhadap keluhan investasi. Hal ini agar apa yang diharapkan perusahaan bisa tersampaikan dengan baik dan menemukan jalan keluarnya.
"Saat ini belum ada pemberitahuan resmi ke BKPM. Kalau memang ada masalah. Perusahaan dapat menyampaikannya ke kami, sehingga ada solusi yang diberikan," tutup Franky.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News