NEWSTICKER
Ilustrasi pedagang tempe. Foto: dok MI.
Ilustrasi pedagang tempe. Foto: dok MI.

Tempe Khas Indonesia Berpotensi Merajai Pasar Australia

Ekonomi kementerian perdagangan indonesia-australia Tempe
Ilham wibowo • 17 Februari 2020 10:37
Sydney: Produk tempe khas Indonesia telah memiliki peminat yang cukup besar di Australia. Hal ini terungkap usai Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan (Kemendag) Dody Edward menghadiri forum bisnis Indonesia-Australia yang berlangsung di Sydney.
 
Dalam rangkaian misi dagang ke Australia, Dody bersama para pelaku usaha Indonesia berkesempatan mengunjungi industri tahu tempe yang berhasil dikembangkan oleh diaspora Indonesia di Sydney, yaitu Nutrisoy. Menurutnya, produk tahu dan tempe memiliki potensi yang cukup besar di pasar Australia mengingat sebagian besar masyarakat Australia mulai menyadari hidup sehat dan mengurangi konsumsi daging.
 
Pangsa pasar Nutrisoy saat ini 90 persen dipasarkan di Australia sementara 10 persennya untuk ekspor tujuan Selandia Baru, Kaledonia Baru, Singapura, dan Uni Emirat Arab.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Nutrisoy memproduksi makanan khas Indonesia yang sangat digemari masyarakat Australia," kata Dody melalui keterangan tertulisnya, Senin, 17 Februari 2020.
 
Diterimanya produk tempe dan tahu dinilai merupakan peluang besar dalam peningkatan ekspor produk khas Indonesia lainnya. Terlebih, produk berbahan dasar kacang kedelai ini memiliki kandungan gizi yang baik.
 
"Kami berharap, Nutrisoy dapat melakukan promosi untuk memperkenalkan produk Indonesia lebih luas khususnya di restoran dan supermarket sehingga masyarakat Australia mengetahui produk Indonesia," ujar Dody.
 
Selain ke Nutrisoy, Dody juga mengunjungi importir Indonesia yang bergerak di bidang perkayuan dan bahan bangunan, yaitu Innovative Timber Ideas (ITI).
 
Peluang ekspor produk Indonesia dan hambatan yang dihadapi dalam melakukan importasi produk Indonesia jadi fokus dalam pembahasan diskusi. Saat ini, ITI mengimpor produk kayu berupa decking dan timber untuk dipasarkan ke toko dan depo bangunan di Australia.
 
"Produk kayu Indonesia telah memenuhi regulasi dan sertifikasi yang diminta oleh pihak Australia, antara lain SVLK," ungkap Dody.
 
Adapun ITI merupakan salah satu penerima penghargaan Primaduta Award yang diberikan oleh Presiden Joko Widodo pada Trade Expo Indonesia 2019 lalu. Primaduta Award adalah penghargaan yang diberikan kepada perusahaan asing yang loyal mengimpor produk dari Indonesia.
 
Lebih lanjut, kedatangan Dody di Australia sekaligus melanjutkan misi dagang dengan membawa 10 perusahaan Indonesia dari berbagai sektor, yaitu kayu, furnitur, dekorasi rumah, kerajinan, makanan dan minuman, kopi, pupuk, dan niaga elektronik (e-commerce). Penjajakan kesepakatan bisnis yang mempertemukan para pelaku usaha Indonesia dan Australia juga turut dilakukan.
 
"Kegiatan ini menghasilkan potensi nilai transaksi B-to-B sebesar USD2,4 juta untuk produk makanan dan bumbu masak, kopi, produk perikanan, furnitur, dan produk kayu," tuturnya.

 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif