"Dulu saya mampu mengolah 1 ton logam per hari pada 2015, kini hanya mampu 800 kwintal saja per hari," kata Ketua Asosiasi Pengusaha Logam Waru (Aspilow) Miftahul Ulum, diberitakan Minggu (16/10/2016).
Menurut Miftah, selain karena dikuasai oleh Tiongkok, ada beberapa faktor lainnya yang menyebabkan industri bahan logam menurun. Diantaranya, Indonesia belum memiliki pabrik pengolahan hasil tambang menjadi pengolahan bahan baku industri.
"Kemudian karena masih banyak pasir besi yang diekspor tidak diolah sendiri oleh Indonesia, padahal potensi tambang di negara kita ini kan sangat tinggi, hampir 95 persen pengusaha mengelola bahan baku yang sudah ada," katanya.
Terlebih lagi, lanjut Miftah, pengusaha industri Tiongkok yang ada di Indonesia menjual logam dengan harga murah, yakni Rp7.500 per lembar, atau lebih tinggi dari harga logam di Indonesia sebesar Rp7.700 per lembar.
Selain itu, Upah Minimum Kota (UMK) yang ditentukan oleh pemerintah masih terlalu tinggi dan tidak sesuai dengan hasil produksi mereka. Begitu pula dengan biaya angkut yang tidak di tunjang dengan infrastruktur yang memadai.
"Dulu mau kirim ke Pasuruan cukup 1 jam saja, tetapi saat ini butuh waktu berjam jam, pengiriman cukup panjang nambah uang untuk bensin dan makan supir juga, naiknya harga gas dan tarif listrik juga berpengaruh pada penurunan industri logam ini," jelasnya.
Dengan kondisi ini, Miftah memprediksi penurunan industri logam ini akan berlangsunh hingga tahun 2017 mendatang, jika tidak ada langkah kongkrit dari pemerintah.
"Misalnya dengan pembatasan impor barang termasuk sektor bahan baku logam, serta pembangunan pabrik pengolah bahan baku di Indonesia," pungkas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News