Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. Foto: Medcom.id/Husen Miftahudin.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. Foto: Medcom.id/Husen Miftahudin.

Alasan BI Pilih Turunkan GWM Ketimbang Suku Bunga

Ekonomi bank indonesia suku bunga giro wajib minimum
Husen Miftahudin • 02 Maret 2020 20:20
Jakarta: Bank Indonesia (BI) mengeluarkan lima kebijakan dalam menangkis dampak virus korona terhadap stabilitas pasar keuangan. Salah satunya dengan menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) Valuta Asing Bank Umum Konvensional dan Syariah dari delapan persen menjadi empat persen dan mulai berlaku pada 16 Maret 2020.
 
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan langkah ini dapat meningkatkan likuiditas valas di perbankan sekitar USD3,2 miliar sekaligus mampu mengurangi tekanan di pasar valas. Kebijakan ini juga dapat memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah pelemahan mata uang dunia.
 
Selain itu, bank sentral juga menurunkan GWM rupiah sebesar 50 bps. Upaya ini ditujukan kepada bank-bank yang melakukan kegiatan pembiayaan ekspor-impor sehingga diharapkan dapat mempermudah kegiatan ekspor-impor melalui biaya yang lebih murah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Perry, pilihan BI menurunkan GWM sudah didiskusikan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada pertengahan Februari lalu. Pada saat itu, Bank Indonesia memandang likuiditas perbankan lebih dari cukup sehingga memilih menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 4,75 persen.
 
"Sekarang masalahnya kan karena ada risk off global yang secara jangka pendek terjadi outflow. (Lima jurus BI) sekaligus untuk ketahanan terhadap nilai tukar rupiah," ujar Perry dalam konferensi pers di kantor pusat Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Senin, 2 Maret 2020.
 
Selain menurunkan GWM, Bank Indonesia juga meningkatkan intensitas triple intervention. Tujuannya, agar nilai tukar rupiah bergerak sesuai dengan fundamentalnya dan mengikuti mekanisme pasar.
 
"Bank Indonesia akan mengoptimalkan strategi intervensi di pasar DNDF (Domestic Non Delivery Forward), pasar spot, dan pasar SBN (Surat Berharga Negara) guna meminimalkan risiko peningkatan volatilitas nilai tukar rupiah," tegas Perry.
 
Dalam hal ini, sebut dia, BI menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan melakukan intervensi di pasar melalui pembelian SBN. Hingga saat ini bank sentral telah mengintervensi pasar sebanyak Rp103 triliun, Rp80 triliun di antaranya dibeli dari pasar sekunder.
 
Imbasnya, stabilitas nilai tukar rupiah terjaga meski mengalami pelemahan. Namun demikian pelemahan mata uang Garuda itu bukan karena fundamental, melainkan lebih karena investor global yang 'ramai' menarik dananya (risk off).
 
Intervensi otoritas moneter tersebut juga membuat pelemahan rupiah lebih rendah ketimbang pelemahan mata uang dolar Singapura dan Amerika Serikat secara year to date (ytd). Ini karena dampak perdagangan Indonesia terhadap global juga masih rendah.
 
"Sebenarnya Indonesia itu paling rendah dampak ekonominya dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Jepang, Korea, Singapura, dan Malaysia. Karena tingkat perdagangan kita secara global maupun dengan Tiongkok itu lebih rendah," tutup Perry.
 
(AHL)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif