Kemiskinan. Foto : MI.
Kemiskinan. Foto : MI.

Orang Miskin di Indonesia Tersisa 24,79 Juta

Ekonomi kemiskinan bps
Husen Miftahudin • 15 Januari 2020 19:51
Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka kemiskinan di Indonesia pada September 2019 sebesar 9,22 persen dari keseluruhan penduduk. Artinya, masih ada sebanyak 24,79 juta orang miskin di Indonesia.
 
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan angka kemiskinan pada September 2019 mengalami penurunan sebesar 0,19 persen dibandingkan posisi Maret 2019. Pada saat itu angka kemiskinannya mencapai 9,41 persen dari jumlah penduduk atau setara 25,14 juta orang.
 
"Jumlah penduduk miskinnya dari Maret 2019 ke September 2019 itu turun sebesar 360 ribu orang," ujar Suhariyanto dalam konferensi pers di gedung BPS, Jalan Dr Sutomo, Jakarta Pusat, Rabu, 15 Januari 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ada beberapa faktor yang memengaruhi penurunan kemiskinan. Salah satunya kenaikan rata-rata upah nominal buruh tani dan buruh bangunan pada September 2019 dibandingkan Maret 2019.
 
"Upah buruh mencerminkan pendapatan untuk masyarakat lapisan bawah. Rata-rata upah nominal buruh tani dari Maret ke September 2019 itu mengalami kenaikan, upah nominal buruh bangunannya juga mengalami kenaikan," tutur Suhariyanto.
 
Rata-rata upah nominal buruh tani harian pada September 2019 naik sebesar 1,02 persen dibanding Maret 2019, dari Rp53.873 per hari menjadi Rp54.424 per hari. Sementara rata-rata upah nominal buruh bangunan harian pada September 2019 naik sebesar 0,49 persen dibanding Maret 2019, yaitu dari Rp88.637 per hari menjadi Rp89.072 per hari.
 
"Dan di satu sisi, inflasi kita selama 2019 itu rendah, totalnya hanya 2,72 persen di bawah tiga persen. Kalau kita lihat inflasi dari Maret 2019 ke September 2019 itu hanya 1,84 persen. Jadi inflasi secara umum juga terkendali," bebernya.
 
Selain itu pada periode Maret 2019-September 2019, secara nasional harga eceran beberapa komoditas pokok seperti beras, daging ayam ras, minyak goreng, telur ayam ras, dan ikan kembung mengalami penurunan. Untuk beras turun 1,75 persen, daging ayam ras turun 2,07 persen, minyak goreng turun 1,59 persen, telur ayam ras turun 0,12 persen, dan ikan kembung turun 0,03 persen.
 
Kemudian, sambung Suhariyanto, adanya peningkatan cakupan penerima Program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Jumlah kabupaten/kota penerima Program BPNT yang terealisasi pada kuartal III-2019 mencapai 509 kabupaten/kota.
 
"Jumlah ini meningkat 289 kabupaten/kota dibandingkan kuartal I-2019," ucap dia.
 
Suhariyanto menyebutkan metodologi penghitungan angka kemiskinan di Indonesia mengacu pada 'Handbook on Poverty and Inequality' yang digunakan oleh banyak negara. Metodologi ini menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar atau basic needs approach.
 
"Pada dasarnya metode ini kita menanyakan pengeluaran dari rumah tangga, kemudian kita menghitung garis kemiskinan. Kalau pengeluaran per kapita dari rumah tangga itu berada di bawah garis kemiskinan, kita kategorikan miskin. Dan kalau di atasnya maka kita kategorikan tidak miskin," pungkas Suhariyanto.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif