Ilustrasi industri tekstil. Foto : MI/Bagus.
Ilustrasi industri tekstil. Foto : MI/Bagus.

Revitalisasi Industri Tekstil RI Butuh Rp175 Triliun

Ekonomi industri tekstil bkpm
Desi Angriani • 11 Desember 2019 16:34
Jakarta: Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyebut revitalisasi industri tekstil dari hulu hingga ke hilir membutuhkan anggaran Rp175 triliun. Perbaikan sektor ini akan memakan waktu tujuh tahun.
 
"Termasuk revitalisasi mesin jadi bisa mencapai Rp175 triliun dibagi hulu dan hilir," katanya di Gedung BKPM, Jakarta, Rabu, 11 Desember 2019.
 
Ia menjelaskan revitalisasi tersebut antara lain peremajaan mesin, peningkatan kapasitas produksi hingga memacu ekspor. Namun, dalam tahap pertama, pemerintah memprioritaskan kebutuhan penggantian mesin produksi dengan anggaran mencapai Rp75 triliun.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Mesin-mesinnya kalau enggak salah Rp75 triliun ya. Tapi saya lagi minta mereka mana yang jadi prioritas," ungkap dia.
 
Lebih lanjut, revitalisasi industri tekstil ini diyakini mendongkrak cadangan devisa dari USD13,2 miliar pada 2018 menjadi USD49 miliar di 2030.
 
"Devisa kita akan meningkat. Kita arahnya bahwa di 2030 menjadi USD49 miliar dengan net devisa USD30 miliar. Net devisa itu ekspor, minus impor," tuturnya.
 
Bahlil menambahkan peremajaan tersebut akan mengatasi kasus tutupnya pabrik-pabrik tekstil di Indonesia akibat penetrasi produk garmen impor yang begitu tinggi.
 
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat Sintesis dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Ravi Shankar menambahkan pasar tekstil Indonesia dalam kondisi kritis lantaran produk garmen dari hulu hingga hilir diisi oleh pemain besar di kawasan Asia.
 
"Jadi market Indonesia sekarang dalam kondisi kritis karena barang masuk, barang hulu, barang hilir, garmen semuanya," katanya
 
Ravi menjelaskan market tekstil di bagian hulu didominasi oleh Tiongkok dan India. Sementara sektor hilir dipegang Vietnam dan Bangladesh. Mereka memiliki kapasitas produksi yang besar sehingga mampu merambah pasar Indonesia.
 
"Jadi karena daya saing kita problem, dan negara yang tadi bersaing itu sudah bikin skala dunia kapasitasnya. Mereka punya kelebihan kapasitas, mau tembus ke market Indonesia," ungkap Rivi.
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif