Manulife gencar garap pasar domestik. (FOTO: dok Manulife)
Manulife gencar garap pasar domestik. (FOTO: dok Manulife)

Manulife Indonesia Gencar Garap Pasar Domestik

Ekonomi manulife aset manajemen indonesia
Ade Hapsari Lestarini • 15 Agustus 2019 15:45
Jakarta: Perusahaan asuransi jiwa PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia (Manulife Indonesia) gencar menggarap pasar potensial di Tanah Air dengan berbagai strategi jitu.
 
Termasuk menghadirkan produk-produk unggulan yang menarik sehingga bisa diterima masyarakat Indonesia dengan baik. Hal itu diyakini bisa meningkatkan peringkat Manulife di papan atas jajaran perusahaan-perusahaan asuransi jiwa di Indonesia.
 
"Strategi utama kami adalah fokus kepada nasabah. Ini merupakan cara terbaik untuk bertumbuh. Kami sangat yakin bisa memberikan yang terbaik untuk nasabah. Makanya, kami optimistis dengan strategi ini peringkat kami tentu bisa naik," ujar Presiden Direktur dan Chief Executive Officer Manulife Indonesia Ryan Charland dalam jumpa pers peluncuran produk baru Manulife untuk Persiapan Hari Tua Nasabah yakni MiFuture Income Protector (Mifip) di Jakarta, Kamis, 15 Agustus 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ryan mengaku sejak resmi memimpin Manulife Indonesia per Juli 2019, hal pertama yang ia pikirkan adalah apa yang bisa dilakukan untuk memproteksi keluarga-keluarga di Indonesia.
Saat ini, Manulife Indonesia berada di posisi ketiga pada peringkat perusahaan asuransi jiwa versi Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mengacu dari nilai aset. Nilai aset Manulife sebesar Rp47,63 triliun tidak terpaut jauh dari runner up yang dipegang AIA Financial dengan aset Rp47,89 triliun. Posisi teratas masih dipegang Prudential dengan nilai aset Rp72,53 triiun.
 
Ia tidak menampik, optimisme itu didukung kinerja memuaskan dalam beberapa tahun belakangan ini. Pada 2018, Manulife mencetak laba tahun berjalan yang melonjak 170 persen dari tahun sebelumnya menjadi Rp2,6 triliun. Hasil positif itu karena adanya pertumbuhan pendapatan premi bersih, beban perusahaan yang lebih rendah, dan pergerakan suku bunga selama 2018. Pendapatan premi bersih Manulife Rp9,2 triliun atau naik empat persen dari 2017. Saat ini Manulife Indonesia melayani nasabah yang totalnya mencapai 2,5 juta nasabah.
 
"Kinerja 2018 itu merupakan hasil kerja yang bagus dari tim manajemen. Memang kami tidak mematok target berapa, tetapi yang kami pastikan, Manulife akan memberi solusi yang baik ke nasabah. Kalau kita fokus ke nasabah, tentu income premi akan mengikuti," tutur dia.
 
Terkait produk terbaru, Charland menjelaskan, Mifip dirancang untuk nasabah yang menginginkan ketenangan jangka panjang dan tidak terpengaruh pergerakan pasar. Produk itu dipasarkan via jalur keagenan. Menurut dia, produk asuransi tradisional ini memberi berbagai manfaat hingga enam kali jumlah premi yang dibayarkan, sehingga nasabah siap menghadapi hari tua.
 
"Selama lebih dari 34 tahun di Indonesia, kami berkomitmen kuat terus membantu memudahkan hidup masyarakat Indonesia pada setiap tahap kehidupannya, termasuk hari tua mereka," ujar Charland.
 
Memutus Generasi Sandwich
 
Pada kesempatan itu, Head of Product Manulife Indonesia Richard A Sondakh memaparkan produk Mifip hadir dilatarbelakangi meningkatnya kelas menengah di Indonesia. Berdasarkan kajian Boston Consulting Group, pertumbuhan masyarakat kelas menengah Indonesia akan meningkat 64 persen dari 2012 hingga 2020 yakni dari 41,6 juta jiwa menjadi 68,2 juta jiwa.
 
Ia melanjutkan, merujuk pada data Manulife Investor Sentiment Index (MISI) yang diluncurkan pada 2017, sebagian besar masyarakat Indonesia optimistis terhadap hari tua mereka. Mereka memiliki ekspektasi memiliki 57 persen lebih baik dari gaya hidup saat ini. Di sisi lain, hanya 19 persen investor yang khawatir akan kehabisan uang pada masa pensiun nanti.
 
Namun, meskipun pensiun berada dalam tiga besar prioritas keuangan utama, mayoritas investor hanya dapat menyiapkan dana pensiun kurang dari Rp100 juta. Uang sejumlah itu akan habis dalam 2-3 tahun jika dihitung dengan rata-rata pengeluaran rumah tangga sebesar Rp4 juta per bulan.
 
"Pertumbuhan kelas menengah menjadi kesempatan bagi perusahaan asuransi untuk meningkatkan penetrasi. Tetapi kenyataannya tidak ternyata pas. Optimisme tidak didukung persiapan finansial yang matang," tutur dia.
 
Saat ini masih banyak generasi sandwich, di mana kalangan kelas menengah masih dihadapkan persoalan menanggung kebutuhan orangtua mereka dan keluarganya sendiri yakni istri dan anak-anak. Apalagi, berdasarkan data OJK, hanya 13,5 juta pekerja atau sekitar 27 persen dari 50 juta pekerja formal di Indonesia yang memiliki program pensiun.
 
Lewat produk Mifip, kata Richard, Manulife Indonesia ingin memutus mata rantai generasi sandwich. Karena nasabah bisa menyiapkan hari tua dengan lebih baik, tanpa membebani anak mereka. Apalagi, tidak semua anak bisa sukses.
 
Sementara itu, Chief Agency Officer Manulife Indonesia Jeffrey Kie menjelaskan, Mifip dijual lewat jalur distribusi keagenan. Saat ini, sekitar 7.000 tenaga pemasaran di 25 kantor pemasaran Manulife siap memasarkan Mifip.
 
"Lewat MiFIP, masyarakat tidak perlu khawatir akan income tetap, terutama ketika mereka sudah tidak lagi bekerja. Kita juga harus mengantisipasi berbagai risiko kehidupan untuk mencegah bergantung pada anak dan menjadikan mereka beban. Melalui salah satu keunggulan MiFuture Income Protector, produk ini dapat menjadi solusi agar generasi penerus tetap terlindungi dari risiko yang tidak menentu dan mempertahankan kesejahteraan yang sudah ada sebelumnya," jelasnya.
 
Sejumlah keunggulan Mifip adalah, memberikan benefit pembayaran hingga enam kali jumlah premi yang dibayarkan. Lalu, keleluasaan bagi nasabah untuk menentukan usia mapan (fleksibilitas) dan besaran dana mapan yang diinginkan. Selain itu, adanya kemudahan underwriting, dan kemudahan bagi nasabah untuk memilih dalam mata uang rupiah maupun dolar Amerika Serikat.
 
Setidaknya, nasabah akan mendapatkan hingga 800 persen dari dana mapan yang dibayarkan. Soalnya, ada manfaat pembayaran tunai usia mapan yakni 100 persen dana mapan dibayarkan sekaligus ketika mencapai usia mapan. Lalu adanya manfaat pembayaran tunai tahunan. Yakni, sebesar 400 persen dana mapan yang dibayarkan selama 20 tahun. Kemudian, manfaat akhir masa perrtanggunan di mana 200 persen dana mapan dibayarkan sekaligus. Kemudian adanya manfaat meninggal dunia karena kecelakaan yakni 100 persen dana mapan diberikan.
 
Ryan melanjutkan besarnya generasi sandwich menunjukkan literasi keuangan di Indonesia perlu ditingkatkan. Menurut Ryan, produk terbaru itu sebagai upaya Manulife meningkatkan literasi keuangan di Tanah Air. Ia menjelaskan, populasi Indonesia mencapai 265 juta jiwa, sedangkan penetrasi asuransi masih sangat kecil yakni 1,3 persen.
 
"Ini peluang besar bagi kami. Produk Mifip ini sebagai upaya kami meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia atas proteksi. Sebab, setiap orang butuh asuransi," kata dia.
 
Menurut dia, produk Mifip menolong masyarakat Indonesia. Selama 34 tahun berada di Indonesia, Manulife berkomitmen memudahkan kehidupan masyarakat, termasuk di hari tua.
 

(AHL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif