Eks pendiri KBN Yustian Ismail (kanan). Medcom.id/Ilham Pratama.
Eks pendiri KBN Yustian Ismail (kanan). Medcom.id/Ilham Pratama.

KBN Diminta Fokus ke Bisnis Inti

Ekonomi Pelabuhan Marunda
04 Juli 2019 22:12
Jakarta: Salah satu pendiri PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN), Yustian Ismail, meminta perusahaan kembali fokus pada bisnis intinya. Sejak awal berdiri, tugas utama KBN adalah menyewakan lahan untuk kawasan industri.
 
"Sekarang ini bangun rumah sakit, itu pun sampai sekarang tidak beroperasi, utang semakin menumpuk sehingga mempengaruhi kinerja keuangan dan sekarang bersengketa dengan PT Karya Citra Nusantara (KCN). Karena itu KBN agar segera kembali ke core business-nya, yaitu penyewaan tempat dan lahan," ujar Yustian dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, 4 Juli 2019.
 
Dalam perjalanannya, terang Yustian, KBN terbilang sukses menyewakan tanah atau gedung pabrik kepada sekitar 150 perusahaan besar. Ketika itu, total jumlah karyawannya sekitar 400 orang, dan total jumlah buruh yang bekerja di kawasan tersebut pernah mencapai 150 ribu orang.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Soal sengketa pembangunan Pelabuhan Marunda antara KBN dan KCN, Yustian menyebut KCN tidak melanggar hukum. Sebaliknya, pembangunan pelabuhan tersebut justru sangat membantu kelancaran kegiatan lalu lintas barang, terutama ekspor-impor dan perdagangan dalam negeri.
 
"KCN tidak membangun pelabuhah di atas lahan KBN. Lahan yang dijadikan pelabuhan itu merupakan hasil reklamasi yang mana akses menuju ke sana harus melewati properti KBN," ungkap Yustian.
 
Lebih lanjut dia menjelaskan, keberadaan Pelabuhan Marunda dalam lima tahun terakhir cukup strategis menopang Pelabuhan Tanjung Priok yang selama ini menjadi pusat bongkar muat barang. Sejak hadirnya Pelabuhan Marunda, beban Tanjung Priok untuk bongkar-muat barang curah berkurang signifikan.
 
"Jadi, bongkar muat barang dapat dilakukan di pelabuhan yang dibangun dan dikelola KCN, kemudian disimpan dalam gudang atau lahan yang disewa dari KBN sebelum diekspor atau didistribusikan dari dan ke pulau-pulau lain di Indonesia," tegasnya.
 
Menurut Yustian, kehadiran Pelabuhan marunda yang dikelola oleh KCN dengan KBN yang memiliki akses jalan menuju pelabuhan, seharusnya bekerja sama karena keduanya saling membutuhkan. Pemerintah harus segera menyelesaikan sengketa di antara keduanya karena sengketa ini akan berdampak pada kegiatan ekspor-impor.
 
"’KBN hanya memiliki akses jalan menuju pelabuhan yang sudah dibangun oleh KCN. KBN bukan pemilik lahan itu," tutur dia.
 
Dalam kinerja keuangan yang dipublikasikan oleh KBN terlihat, pada 2014 laba bersih perseroan sempat membukukan pencapaian sebesar Rp265,34 miliar. Pada 2015, laba bersih terjun bebas menjadi Rp56,63 miliar. Menurut laporan keuangan KBN 2015, penurunan yang tajam ini karena tidak terealisasinya pembangunan dermaga C-04 kawasan Marunda terkait perizinan.
 
Pada 2016, laba bersih naik menjadi Rp138,3 miliar dan meningkat menjadi Rp163,09 miliar di 2017. Namun pada 2018, laba bersih KBN turun menjadi Rp149,78 miliar atau hanya 74 persen dari target yang ditetapkan dalam Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) 2018. Penurunan laba bersih dipengaruhi beban usaha perusahaan.
 
Dalam laporan keuangan KBN terlihat beban pokok usaha pada 2018, naik menjadi Rp296,42 miliar dari beban tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp279,67 miliar. Bahkan pada 2016, KBN membukukan beban pokok usaha mencapai Rp313,13 miliar.
 

(HUS)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif