Ilustrasi. (Goran Factory / Fortune)
Ilustrasi. (Goran Factory / Fortune)

Mengenal Unicorn, Decacorn, dan Hectocorn

Ekonomi startup geliat e-commerce e-commerce ekonomi digital Unicorn
Desi Angriani • 22 Februari 2019 11:55
Jakarta: Unicorn menjadi diksi atau istilah yang populer beberapa waktu terakhir. Banyak orang bertanya makhluk macam apa unicorn sehingga banyak diperbincangkan dan dipergunjingkan.
 
Rupanya istilah unicorn menjadi polemik setelah capres 01 Joko Widodo melemparkan pertanyaan terkait bagaimana cara mendukung perkembangan startup unicorn di Indonesia kepada capres 02 Prabowo Subianto.
 
Pada debat kedua tersebut, Prabowo terlihat bingung dengan terma tersebut. Setelah ditelusuri, rupanya masih ada dua gelar lain yang diberikan kepada perusahaan startup, yakni decacorn dan hectocorn. Lantas bagaimana perbedaan ketiganya.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam ekonomi digital, istilah unicorn bukanlah makhluk mitologi bertanduk satu. Unicorn merupakan usaha rintisan dengan nilai valuasi melebihi USD1 miliar rupiah. Bahkan diksi ini sangat familiar di dunia startup.
 
Unicorn diperkenalkan ke publik pada 2013 lalu oleh pemodal Ventura dari Cowboy ventures Aileen Lee. Istilah ini disematkan bagi perusahaan rintisan/startup yang memiliki nilai valuasi atau nilai ekonomi dari bisnis yang dilakukan melebihi USD1 miliar.
 
Lee memilih mitos seekor kuda bertanduk satu ini karena perusahaan startup yang sukses tergolong langka. Ia juga percaya istilah unicorn ini mampu menggambarkan obsesi magis para startup yang berburu valuasi hingga miliaran dolar AS.
 
Sedikitnya ada lebih dari 300 unicorn di dunia, empat di antaranya berasal dari Indonesia. Mereka adalah Gojek dengan nilai valuasi USD9 miliar, Traveloka sebesar USD4,1 miliar, Tokopedia sebesar USD7 miliar dan Bukalapak dengan nilai valuasi USD1 miliar.
 
Sementara itu, decacorn merupakan julukan berikutnya bagi startup dengan valuasi lebih dari USD10 miliar. Perusahaan decacorn ini didominasi oleh Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, seperti Uber dengan nilai valuasi USD72 miliar, WeWork sebesar USD47 miliar, Airbnb dengan nilai USD29,3 miliar.
 
Tak kalah, Grab sebagai satu-satunya perusahaan Asia Tenggara juga menyandang status decacorn dengan nilai sekitar USD11 miliar. Gojek pun diprediksi segera menyandang gelar decacorn tahun ini lantaran valuasinya hampir mendekati USD10 miliar.
 
Selanjutnya hectocorn, ini merupakan istilah tertinggi pada level startup. Agar mendapatkan gelar tersebut, maka perusahaan startup harus memiliki nilai valuasi melebihi USD100 miliar. Adapun perusahaan yang mendapat gelar dewa di startup ini adalah Ant Financial milik Jack Ma. Startup asal Tiongkok tersebut memiliki nilai perusahaan USD150 miliar.
 
Meski demikian, perusahaan startup di Indonesia tergolong berkembang pesat. Pasalnya dari 8 unicorn di Asia Tenggara, 4 di antaranya dimiliki oleh Indonesia. Pengamat ekonomi digital Heru Sutadi menjelaskan keunggulan Indonesia di dunia startup tersebut tak terlepas dari bonus demografi dan pangsa pasar yang besar.
 
Di samping itu, jumlah pengguna internet dan pengguna ponsel di Tanah Air mencapai 170 juta jiwa. “Kita terunggul di Asia Tenggara karena penduduk besar dan pasar besar, pengguna internet juga banyak jadi memang digitalisasi cukup bagus dan cocok untuk pertumbuhan ekonomi digital,” katanya saat dihubungi Medcom.id pada Jumat 22 Februari 2019.
 
Menurutnya, jumlah startup unicorn di Indonesia akan terus bertambah seiring dengan program 1.000 startup yang dicetuskan pemerintah. Namun, program tersebut harus dibarengi dengan ekosistem pendukung maupun regulasi yang mampu mendorong pertumbuhan bisnis startup di Indonesia.
 
“Cuman perlu ekosistem dan dukungan terutama dari pemerintahnya, infrastruktur, regulasi yang mendukung,” pungkasnya.
 

 

 

(Des)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif