Ilustrasi. (FOTO: MI/Panca Syurkani)
Ilustrasi. (FOTO: MI/Panca Syurkani)

Menabung Menjadi Gerakan Nasional

Ekonomi menabung
31 Oktober 2016 08:59
medcom.id, Jakarta: Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan masyarakat Indonesia cenderung semakin konsumtif. Ini bisa dilihat dari marginal propensity to save (MPS) dari 0,87 pada 2007 menjadi 0,44 pada 2014.
 
Sementara itu, data lembaga International Monetary Fund (IMF) menunjukkan gross national saving to GDP (gross domestic product) Indonesia hanya 30,87%. Angka itu masih di bawah Tiongkok (40,87%) dan Singapura (46,73%).
 
Data-data di atas menunjukkan masih kecilnya tingkat gemar menabung masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, Indonesia meluncurkan Hari Menabung Nasional hari ini.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Presiden yang akan meresmikan Hari Menabung Nasional tersebut," kata Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman Hadad dalam pertemuan dengan pimpinan media di Jakarta, kemarin.
 
Menurut dia, dengan pencanangan Hari Menabung Nasional, menabung diharapkan menjadi sebuah gerakan atau budaya. Apalagi, situasi ekonomi dunia yang belum memperlihatkan tanda-tanda perbaikan dalam satu atau dua tahun ke depan memgharuskan Indonesia membiayai pembangunan untuk pertumbuhan ekonomi secara mandiri.
 
"Menabung sebagai gerakan berguna antara lain sebagai instrumen membiayai pembangunan secara mandiri, bukan melulu dari pinjaman luar negeri agar pertumbuhan ekonomi tetap bisa dijaga di atas 5%," tutur Muliaman.
 
Ia menambahkan, menabung merupakan sarana memobilisasi dana masyarakat untuk pembangunan, misalnya pembangunan infrastruktur.
 
"Menabung bukan cuma dalam arti menabung di bank, tapi lebih luas lagi juga termasuk menabung di pasar modal, asuransi, pegadaian," imbuhnya.
 
Yang tidak kalah penting, gerakan menabung dalam arti luas juga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mengurangi kemiskinan, menciptakan lapangan kerja, dan mengurangi kesejahteraan. Keragaman varian instrumen yang dapat mewadahi tabungan masyarakat menjadi pembeda dengan gerakan sebelumnya.
 
Pada 2008, Bank Indonesia menginisiasi program Ayo ke Bank guna mendorong budaya menabung. Kemudian, pada 2010, Presiden Yudhoyono meluncurkan Gerakan Indonesia Menabung dan produk Tabunganku.
 
Sementara itu, Ketua World Saving Bank Institute Asia Pasifik Maryono menyatakan banyak negara yang menetapkan dan merayakan 31 Oktober sebagai Hari Menabung.
 
"Peringatan Hari Menabung bukan soal seremonialnya, tetapi kita ingin menegaskan bahwa menabung itu penting," ujar Direktur Utama BTN tersebut.
 
Maryono menambahkan tiga hal. Pertama, menabung telah menjadi gerakan dunia. Kedua, industri perbankan akan mendukung gerakan menabung. Ketiga, gerakan ini diharapkan mendapat dukungan masyarakat.
 
ATM BUMN
 
Di lain hal, Himpunan Bank-Bank Negara (Himbara) mengambil langkah untuk memiliki layanan switching guna mengoptimalkan layanan ATM dan EDC milik bank-bank pelat merah.
 
Dengan spin off unit bisnis switching di Telkom Sigma yang akan menangani Link Himbara, bisnis akan dipindah ke perusahaan baru bentukan Telkom, holding BUMN keuangan, dan kementerian BUMN selaku prinsipal penyelenggara switching dan settlement di holding BUMN keuangan dan perbankan.
 
Deputi Usaha Jasa Keuangan, Jasa Konstruksi, dan Jasa Lainnya Kementerian BUMN Gatot Trihargo mengatakan penentuan tarif ATM untuk bisnis switching ini masih dikerjakan.
 
"Holding BUMN Perbankan akan memperkuat basis dan akan lebih efisien dalam IT dan share services-nya. Akhir tahun ini, akan di-launching 10 ribu ATM Himbara," ujarnya di Jakarta, kemarin.
 
Mesin ATM Himbara yang mewadahi 4 bank BUMN memungkinkan nasabah-nasabah bank-bank itu bertransaksi dengan lebih murah ketimbang bertransaksi di jaringan ATM lain. (Media Indonesia)
 
(AHL)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif