NEWSTICKER
Erick Thohir. Foto : Medcom/Husen M.
Erick Thohir. Foto : Medcom/Husen M.

Erick Thohir Bakal Bubarkan Garuda Tauberes Indonesia

Ekonomi bumn Erick Thohir
Suci Sedya Utami • 20 Februari 2020 17:27
Jakarta: Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan saat ini tengah menunggu aturan yang membolehkan pihaknya melakukan merger dan melikuidasi atau membubarkan perusahaan pelat merah yang sakit dan tidak memberikan manfaat serta nilai tambah.
 
"Sedang diusulkan pada bapak presiden dan menteri keuangan untuk mandat tambahan kita bisa merger dan likuidasi," kata Erick dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis, 20 Februari 2020.
 
Erick mencontohkan salah satu yang akan dilikuidasi yakni anak usaha PT Garuda Indonesia (Persero) yakni PT Garuda Tauberes Indonesia. Garuda Tauberes Indonesia merupakan satu dari lima anak usaha maskapai penerbangan nasional yang direncanakan Erick akan dilikuidasi.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Di Garuda ada lima anak perusahaan yang sebenarnya siap dilikuidasi karena memang sudah hasil rapat komisaris dan direksi mengusulkan ini perlu segera, salah satunya itu (Garuda Tauberes Indonesia)," kata Erick.
 
Ia mengatakan pembubaran tersebut dikarenakan pemerintah melihat perubahan sudah tidak memberikan manfaat dan memiliki rapor merah pada keuangannya.
 
Nama Garuda Tauberes Indonesia mulai ramai diperbincangkan setelah adanya surat dari Komisaris Utama Garuda Indonesia perihal pemberhentian dewan komisaris pada anak/cucu perusahaaan Garuda Indonesia. Dewan komisaris yang dimaksud yakni eks Dirut Garuda I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra (Ari Askhara) yang juga menjabat sebagai komisaris utama di anak usaha Garuda Indonesia.
 
Merujuk pada laman resmi tauberes.co.id, perusahaan ini bergerak di bisnis pengiriman paket. Garuda Tauberes Indonesia juga melayani bisnis kargo udara dan belanja online yang bekerjasama dengan Sarinah.
 
Selain itu, PT Pengembangan Armada Niaga Nasional (PANN) juga masuk dalam bidikan yang akan dilikuidasi. PANN mengelola dua proyek, yakni jetisasi pesawat dengan Jerman dan pemberdayaan kapal ikan dengan Spanyol. Sayang, dua proyek ini tidak pernah rampung. Kondisi ini yang menyebabkan perusahaan terpuruk dalam likuiditas dan permodalan negatif.
 
PANN juga mengelola dua hotel yakni Hotel Grand Permata di Bandung dengan kelas bintang empat dan Grand Surabaya yang berbintang tiga.
 
Kedua hotel tersebut pernah menjadi hotel yang bagus pada masanya. Namun sudah lama terbengkalai sehingga banyak properti sudah tua dan usang. Hal tersebut membuat kinerja keuangan tidak begitu optimal lantaran keuntungan per tahun hanya sekitar Rp1,5 miliar hingga Rp2 miliar.
 
"PANN pegawainya tujuh, ada dua bisnis hotel, jadi bisnis hotel itu bagi hasil dengan mitra, menjadi uang dipakai buat kegiatan, hal seperti itu kan ke depan kita perbaiki. Kita sedang menunggu keputusan presiden dan menkeu supaya BUMN bisa marger dan likuidasi," jelas Erick.
 

(DEV)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif