Suasana Pertokoan di Batam. MTVN/Anwar Sadat Guna.
Suasana Pertokoan di Batam. MTVN/Anwar Sadat Guna.

Tarif UWTO Membebani, Banyak Pelaku Usaha Tutup Toko

Ekonomi bea cukai batam
Anwar Sadat Guna • 14 November 2016 20:25
medcom.id, Batam: Denyut perekonomian di kawasan Jodoh dan Nagoya di Batam, Provinsi Kepri, benar-benar terhenti. Hingga pukul 18.00 tadi hampir semua toko di kawasan perbelanjaan di Kota Batam tersebut tak beroperasi. 
 
Penutupan toko sebagai bentuk solidaritas warga terkait penolakan tarif baru uang wajib tahunan otorita (UWTO) yang diberlakukan pemerintah melalui Badan Pengusahaan (BP) Batam.
 
Pantauan Metrotvnews.com, suasana di kawasan Jodoh-Nagoya tampak lengang. Kawasan yang biasa ramai dipadati penjunjung, tapi, kali ini, benar-benar sepi. Hanya beberapa orang dan kendaraan yang lalu lalang. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Afeng (38) warga Nagoya mengaku menutup toko karena menerima pesan berantai melalui whatsapp akan ada demo besar-besaran di Batam menolak UWTO. Sebagai bentuk solidaritas terhadap aksi itu, kata dia, banyak warga menutup toko, termasuk dirinya. 
 
"Kami juga menutup toko karena khawatir kalau terjadi apa-apa, karena akan ada demo besar-besaran mulai hari ini," kata Afeng saat ditemui Metrotvnews.com di depan tokonya di Nagoya, Senin (14/11/2016).
 
Pemilik toko yang menjual aneka parfum, tas, dan jam tangan ini mengaku, hampir semua pelaku usaha di Nagoya menolak kenaikan tarif UWTO. Tarif baru yang diberlakukan BP Batam tersebut, kata dia, cukup memberatkan warga.
 
"Bila sebelumnya saya membayar tarif UWTO sekira Rp40 juta untuk jangka 30 tahun, tapi dengan tarif baru ini, kenaikan bisa sampai 100 persen. Kalau dihitung-hitung saya harus membayar Rp400 juta," kata Afeng. 
 
Ia mengaku, tarif UWTO yang diberlakukan BP Batam terlalu memberatkan warga. Seharusnya, kata dia, tarif UWTO naik bertahap. 
 
"Misalnya, dari Rp40 juta yang kami bayarkan, naik menjadi Rp50 juta atau Rp60 juta. Kalau seperti ini kami masih bisa menerima, tapi kalau naiknya berkali-kali lipat tentu kami tak sanggup membayar," ujarnya. 
 
Pelaku usaha lainnya, Toni, (35), mengaku menutup toko setelah sempat mendapat kabar akan ada unjuk rasa besar-besaran di Batam. Unjuk rasa tersebut menolak kenaikan tarif UWTO. 
 
"Karena semua toko tutup, saya pun ikut tutup toko. Kita khawatir juga kalau ada apa-apa," ujarnya. 
 
Namun ia mengakui jika tarif UWTO yang diterapkan pemerintah kali ini terlalu tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. 
 
"Harusnya disosialisasikan dulu sebelum diberlakukan, apakah masyarakat Batam setuju atau tidak," katanya. 
 
Informasi yang dihimpun Metrotvnews.com, aksi tutup toko ini, akan berlangsung selama tiga hari, mulai 14,15, 16 November 2016. 
 
Massa yang mengatasnamakan Gerakan Rakyat Menggugat (Geram) UWTO akan berunjuk rasa menuntut pencabutan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 148/2016 dan Peraturan Kepala (Perka) No 19/2016 tentang penyesuaian tarif baru sewa lahan atau UWTO di Batam.
 
Konsentrasi massa yang akan berunjuk rasa dipusatkan di tiga titik, yakni BP Batam, DPRD Batam, dan Graha Kepri, Batam. Polisi langsung merespon rencana aksi tersebut. Kapolresta Barelang Kombes Pol Helmy Santika mengimbau masyarakat tidak terprovokasi oleh rencana aksi selama tiga hari tersebut.
 
"Kami imbau warga tetap membuka tokonya dan beraktivitas seperti biasa. Polisi menjamin Batam aman dan terkendali meski akan ada demo selama tiga hari sampai 16 Novembernanti," pungkas Helmy. 

 
(SAW)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif