Jalan Karir Pengusaha Pemberantas Hama Amran Sulaiman

Dian Ihsan Siregar • 26 Oktober 2014 18:28
medcom.id, Jakarta: Amran Sulaiman merupakan pengusaha yang lahir dari Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel) pada 27 April 1968. Kini namanya masuk mengisi posisi Menteri Pertanian di Kabinet Kerja Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK).
 
Melansir laman Fajar.co.id, Minggu (26/10/2014), Amran bukan terlahir dari orang tua yang kaya raya. Perusahaan yang dia bangun bukanlah warisan dari kedua orang tuanya. Butuh modal, kedisiplinan, keyakinan, kreasi, ketekunan dan optimisme yang tinggi untuk membesarkan namanya seperti sekarang ini
 
Dia memiliki prinsip yang menjadi pegangannya dalam hidup, bahwa kesuksesan adalah hak semua orang dan bukan monopoli pihak tertentu. Berbekal pada prinsip tersebut, diapun akhirnya bisa meraih kesuksesannya. Bermula sebagai peneliti kemudian berkembang menjadi pengusaha pembasmi hama tikus temuannya sendiri.

Saat ini, ayah dari empat anak ini memiliki tujuh perusahaan yanag dipimpin oleh dirinya sendiri, PT Tiran Indonesia, CV Empos Tiran, CV Profita Lestari, CV Empos, PT Amrul Nadin, PT Tiran Sulawesi, dan PT Titan Bombana. Semua perusahaan itu dimilikinya hingga mencapai titik kesuksesan.
 
Makna kejujuran kerap ditekankannya kepada semua karyawan dalam membesarkan usahanya yang dibangun dari nol tersebut. Selama menjalani usaha, dia pernah merasakan kegagalan, namun kegagalan itu bisa dia taklukkan. Amran merintis karir sebagai pengusaha yang bergerak industri rumah tangga.
 
Dengan menggunakan bendera CV Empo Tiran yang dibangunnya pada 1996, pria yang tamat SMA di Bone ini berhasil memproduksi dan mendistribusikan alat serta racun hama tikus. Impian memang tidak sesuai dengan kenyataan, sehingga dia harus berpikir keras untuk mengubah impian itu menjadi lebih baik.
 
Setelah dinyatakan lulus dari pendidikan tentara dan Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru) pada Fakultas Pertanian Unversitas Hasanuddin (Unhas). Keinginannya untuk menjadi tentara tidak direstui oleh ibunya. Padahal tentara merupakan cita-cita yang sudah disiapkannya selama enam tahun.
 
Impian yang telah dibangunnya selama enam tahun untuk menjadi tentara itu akhirnya dia lepaskan demi membahagiakan hati ibunya. Bagi dirinya, tidak ada arti penting jika kebahagiaan tanpa direstui oleh Ibu.
 
Dengan hati yang kuat, dia menetapkan pilihan kuliah di Fakultas Pertanian. Saat ini dia mendapatkan buah matang dari hasil ketekunan dan kepatuhan selama menjalankan hidup yaitu menjadi peneliti dan pengusaha muda sukses.
 
Penemuan racun tikus 58PS dan alat pembasmi tikus Alpostran yang diproduksi lewat jerih payahnya sendiri sangat bermanfaat bagi petani. Sehingga, dia diberikan Satyalencana dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada Juli 2009.
 
Penelitian Tiran 58PS telah menghabiskan waktu kurang lebih dua tahun, dari 1989-1992. Masa uji coba Tiran 58PS juga berlangsung lama, dimulai 1992-1998. Namun, semua yang dilakukannya mendapatkan hasil memuaskan, karena semua petani merespon dengan baik hasil temuan Tiran 58PS.
 
Nama Tiran merupakan singkatan dari Tikus Diracun Amran. Sedangkan Alpostran merupakan singkatan dari, Alat Empos Tikusnya Amran.
 
Permintaan Tiran dan Alpostran tiap tahun mengalami peningkatan, sehingga sudah tersebar di seluruh kabupaten yang ada di Indonesia.
 
Pada akhirnya, suami dari Martati ini menjadi peneliti sekaligus wirausaha, yang dahulunya sangat suka olahraga demi mendapakan sosok tentara sebagai manusia yang ideal.
 
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(WID)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan