Menurut Kepala BPS, Suryamin, tingginya nilai ekspor pada Februari 2015 disebabkan oleh permintaan beberapa komoditas yang meningkat. Komoditas-komoditas tersebut adalah kendaraan dan komponen-komponennya yang ekspornya meningkat sembilan persen, serta produk furnitur yang juga naik sebesar tujuh persen.
Sementara itu, Menteri Perdagangan (Mendag), Rachmat Gobel mengatakan, ada empat komoditas yang memiliki prospek kenaikan ekspor. Pertama, sebut dia, adalah ekspor furnitur yang diperkirakan meningkat karena didukung oleh kemudahan memperoleh bahan baku, kreatifitas desain, dan kemudahan akses pasar ekspor.
"Selanjutnya, adalah ekspor produk kerajinan yang juga diperkirakan mengalami peningkatan seiring dengan akan diadakannya pameran skala internasional di Jakarta, yaitu Jakarta Internasional Handycraft Trade Fair atau Inacraft pada April 2015. Dan peningkatan daya saing oleh pelemahan daya tukar nilai rupiah," ujar Rachmat, dalam Konferensi Pers Kinerja Ekspor Impor Februari 2015, di kantor Kementerian Perdagangan, Jalan MI Ridwan Rais No 5, Jakarta Pusat, Selasa (17/3/2015).
Sedangkan ketiga, lanjut dia, adalah prospek ekspor automotif yang diperkirakan naik sebesar 10 persen. Hal ini menurut dia, karena produk automotif Indonesia semakin kompetitif di negara-negara emerging market atau berkembang.
Meski harga komoditas crude palm oil (CPO/minyak sawit mentah) di pasar global mengalami penurunan, namun hal tersebut tak berpengaruh terhadap daya ekspornya. Rachmat mengakui, ekspor CPO akan diprediksi bakal meningkat jika pemerintah melakukan dorongan untuk mempromosikan CPO ke pasar internasional.
"Pemerintah juga harus memberikan dorongan melalui kelonggaran ekspor. Selain itu, curah hujan yang tinggi di dalam negeri diperkirakan menurunkan produksi, namun hal itu justru akan memperbaiki harga CPO di pasar internasional," pungkas Rachmat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News