Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. FOTO: MI/BARY FATHAHILAH
Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. FOTO: MI/BARY FATHAHILAH

Luhut: B30 Berkontribusi terhadap Kinerja Neraca Perdagangan

Ekonomi neraca perdagangan indonesia biofuel
Antara • 16 Januari 2020 08:31
Jakarta: Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi menilai penerapan biodiesel berkontribusi terhadap kinerja neraca perdagangan Indonesia. Diharapkan kondisi ini bisa terus positif dan nantinya menyehatkan neraca perdagangan Tanah Air di masa-masa yang akan datang.
 
"Defisit neraca dagang kita mengecil dibandingkan dengan tahun lalu, sekarang kan impor-impor kita berkurang gara-gara B20 dan B30," klaim Menko Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan, seperti dikutip dari Antara, di Kemenko Kemaritiman dan Investasi, Jakarta, Kamis, 16 Januari 2020.
 
Ia mengatakan defisit neraca perdagangan Indonesia berpotensi terus menurun seiring dengan implementasi penerapan biodiesel yang terus ditingkatkan. Penerapan biodiesel, menurut dia, juga memberikan efek positif yakni mengurangi ketergantungan Indonesia dengan impor BBM termasuk solar yang tinggi.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Penurunan defisit gara-gara B20, B30, B40, B50 dan seterusnya," ucapnya.
 
Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tercatat neraca perdagangan Indonesia pada 2019 mengalami defisit yang turun tajam, yakni sebesar USD3,2 miliar dengan total ekspor pada periode Januari-Desember 2019 sebesar USD167,53 miliar dan impor USD170,72 miliar.
 
Dalam kesempatan itu, Luhut mengatakan, nilai tukar rupiah relatif terjaga fluktuasinya di level Rp13.600 per dolar AS. "Market tidak bisa dibohongi, dilihat defisit kita membaik. Artinya, menunjukkan bahwa langkah-langkah pemerintah sudah bertambah baik," katanya.
 
Ia optimistis setelah Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja dan Omnibus Law Perpajakan selesai, ditambah pembentukan sovereign wealth fund, mata uang berlambang Garuda akan lebih kuat. Kendati demikian, ia mengatakan, apresiasi rupiah terhadap dolar AS diharapkan tidak terlalu cepat sehingga tidak menggangu kinerja ekspor nasional.
 
"Kita juga mesti lihat ekspor, jangan sampai terlalu cepat menguatnya, akan menjadi masalah nanti. Namun, pemerintah memberikan kepada market mechanism pergerakan rupiah," pungkasnya.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif