Illustrasi. Dok : MI/Panca.
Illustrasi. Dok : MI/Panca.

Industri Plastik dan Karet Sumbang PDB Rp92,6 Triliun

Ekonomi industri karet
Nia Deviyana • 09 Juli 2019 15:06
Jakarta: Industri plastik dan karet masih menunjukkan kinerja yang cukup baik yang terlihat dari laju pertumbuhannya. Sepanjang 2018, industri plastik dan karet tumbuh sebesar 6,92 persen atau lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhannya pada 2017 sebesar 2,47 persen.
 
Industri plastik dan karet telah memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas sebesar 3,54 persen, atau lebih tinggi dibandingkan 2017 yang sebesar 3,5 persen.
 
"Secara rinci total nilai PDB pada tahun 2018 dari sektor industri plastik dan karet sebesar Rp92,662 triliun," ujar Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Achmad Sigit Dwiwahjono usai membuka Pameran Plastik dan Karet di Gedung Kemenperin, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa, 9 Juli 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sigit menambahkan jumlah industri plastik dari 925 perusahaan yang memproduksi berbagai macam produk, mampu menyerap 37.327 tenaga kerja dengan total produksi pada 2018 mencapai 7,23 juta ton.
 
"Permintaan produk plastik ini meningkat rata-rata sebesar lima persen dalam lima tahun terakhir," imbuhnya.
 
Di sisi lain, Sigit tidak memungkiri dalam pengembangannya industri plastik masih menghadapi beberapa kendala, antara lain pemenuhan bahan baku yang saat ini impornya masih tinggi, sedangkan produsen bahan baku plastik dalam negeri belum mampu mencukupi dari segi kuantitas maupun spesifikasi. Belum.lagi gencarnya isu terkait penolakan terhadap produk plastik baik di level nasional maupun internasional.
 
"Akibatnya munculnya gerakan-gerakan untuk mengurangi penggunaan plastik. Padahal masalah utamanya sebenarnya adalah kurangnya manajemen sampah yang ada saat ini," kata dia.
 
Menghadapi tantangan ini, lanjut Sigit, kementerian perindustrian membuat strategi untuk meningkatkan daya saing industri melalui langkah kebijakan strategis seiring dengan penerapan industri 4.0. Salah satunya menyiapkan berbagai macam insentif sebagai stimulus.
 
Selain itu, Pemerintah tengah memfinalisasi aturan mengenai super deductible tax atau pengurangan pajak di atas 100 persen. Insentif fiskal ini akan diberikan kepada industri yang terlibat dalam program pendidikan vokasi serta melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan (litbang) untuk menghasilkan inovasi.
 
"Penerapan super deductible tax sejalan dengan inisiatif di dalam peta jalan Making Indonesia 4.0. Pemberian fasilitas ini selain melengkapi insentif fiskal tax allowance dan tax holiday, akan mengakselerasi industri manufaktur nasional agar siap menuju revolusi industri 4.0," pungkasnya.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif