Ilustrasi. (FOTO ANTARA/Yudhi Mahatma)
Ilustrasi. (FOTO ANTARA/Yudhi Mahatma)

Bisnis Multifinance Diperkirakan Masih Alami Tekanan

Ekonomi multifinance
Angga Bratadharma • 27 Agustus 2016 11:08
medcom.id, Jakarta: Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) menilai laju bisnis perusahaan pembiayaan (multifinance) masih akan mengalami tekanan disepanjang 2016 ini. Perlu stimulus signifikan berupa kebijakan komprehensif untuk mengangkat kembali ekonomi secara nasional agar berimbas terhadap kinerja perusahaan pembiayaan di Indonesia.
 
Ketua Umum APPI Suwandi Wiratno membenarkan bahwa pertumbuhan industri perusahaan pembiayaan tidak akan jauh berbeda dengan pertumbuhan bisnis di 2015 silam. Hal ini diperkirakan terjadi karena situasi dan kondisi ekonomi secara nasional bergerak tidak jauh berbeda dengan tahun lalu. Tentu perlu ada upaya mendorong lebih maksimal.
 
"Paling tinggi pertumbuhan perusahaan pembiayaan maksimal satu persen. Paling tinggi itu satu persen. Kalau untuk pengaruhnya (bisnis perusahaan pembiayaan) kepada kenaikan suku bunga the Fed saya rasa tidak akan signifikan," kata Suwandi, kepada Metrotvnews.com, di Jakarta, Sabtu (27/8/2016).
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Berdasarkan data asosiasi industri sepeda motor diperkirakan pertumbuhan penjualan sepeda motor disepanjang 2016 hanya tumbuh sekitar tujuh persen sampai delapan persen. Sedangkan penjualan mobil diperkirakan tidak ada. Sementara untuk industri alat berat diperkirakan akan mengalami penurunan.
 
"Indikatornya saja seperti itu. Mau tumbuh bagaimana. Memang itu bisnis utama kita semua. Sepeda motor pertumbuhan penjualannya sekitar 7-8 persen. Mobil tidak ada pertumbuhan (penjualan) dan alat berat turun," tegas Suwandi.
 
Untuk itu, Suwandi berharap perekonomian secara nasional bisa membaik dalam waktu dekat ini dan mampu bertumbuh lebih maksimal. Apabila pertumbuhan ekonomi mampu mencapai angka yang tinggi maka Suwandi menilai hal itu akan memberi dampak positif bagi bisnis perusahaan pembiayaan.
 
"Kalau pertumbuhan ekonomi baik maka akan memberikan imbas terhadap bisnis perusahaan pembiayaan. Perusahaan pembiayaan hanya akan tumbuh baik apabila pertumbuhan ekonomi membaik," ujar Suwandi.
 
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2016 mencapai sebesar 5,18 persen. Secara quartal to quartal (q-to-q), capaian pertumbuhan ekonomi di kuartal II-2016 mencapai sebesar 4,02 persen.
 
Adapun pertumbuhan yang lebih baik di kuartal kedua tahun ini lebih disebabkan pada sektor konsumsi yang meningkat. Momen Ramadan dan Idul Fitri menjadi pendorong utama konsumsi masyarakat di kuartal II-2016 meningkat.
 
Sedangkan tingginya pertumbuhan ekonomi di kuartal II-2016 ini dikarenakan adanya pergeseran musim tanam akibat el nino. Kondisi tersebut membuat panen raya tanaman pangan ikut bergeser yang terjadi pada April dan Mei 2016.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif