Ilustrasi. FOTO: dok MI.
Ilustrasi. FOTO: dok MI.

Industri Logistik Penuhi Gaya Hidup Milenial

Ekonomi logistik jne
Desi Angriani • 04 November 2019 09:41
Jakarta: Siang itu, bel indekos berdering berkali-kali. Tampak seorang kurir ekspedisi berdiri di balik pagar. Ia melongok ke dalam rumah sembari berteriak.
 
"Paketnya mba, paket," ujar lelaki paruh baya itu di kawasan Tanjung Duren Utara, Jakarta Barat, Minggu, 3 November 2019.
 
Penjaga indekos pun keluar mengambil bungkusan paket. Lagi-lagi atas nama Riana. Paket itu ditumpuk di atas meja kayu di sudut ruangan lantai dua.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun, Riana belum pulang. Ia pamit sejak pagi untuk mengikuti kebiasaan kaum milenial Ibu Kota. Ia gemar menghabiskan Minggu pagi dengan kegiatan Car Free Day.
 
Tak lama, derap langkah Riana terdengar di anak tangga. Ia menghampiri tumpukan paket itu lalu membawa masuk ke kamarnya. Riana kembali keluar dengan raut kebingungan.
 
"Seharusnya ada satu paket lagi. Saya belanja enam kali minggu lalu," tanya Riana.
 
"Mungkin belum sampai mba. Tadi Mas JNE cuma kasih satu," jawab penjaga kosan.
 
Begitulah gaya hidup Riana, 26, pegawai swasta di bilangan Jakarta Pusat. Ia rutin berbelanja online di marketplace sejak dua tahun terakhir. Dalam satu bulan, ia bisa menghabiskan separuh gajinya membeli berbagai keperluan melalui gadget.
 
Ia tak kesal saat disebut kecanduan. Bagi Riana, gaya hidup tersebut merefleksikan kaum milenial. Ia tak perlu mendatangi pusat perbelanjaan lalu mengantre di kasir.
 
Cukup dengan sentuhan teknologi, Riana dapat membeli pakaian, perlengkapan mandi, make-up, hingga bahan makanan. Kemudian semua kebutuhan itu sampai ke rumah berkat jasa logistik.
 
"Kalau di marketplace tinggal pilih saja dan banyak promo. Itu yang bikin belanja semakin lebih mudah. Dan bisa bandingkan harga tanpa capek keluar masuk toko kayak di mal," ujarnya kepada Medcom.id.
 
Maka tak heran, jasa logistik disebut-sebut memenuhi gaya hidup milenial. Apalagi generasi dengan rentang kelahiran 1980-2000 ini identik dengan teknologi, kepraktisan, dan kemudahan.
 
Direktur PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) Muhammad Feriadi menilai kebutuhan milenial akan logistik menyebabkan jasa tersebut tumbuh di atas 30 persen dalam beberapa tahun terakhir. Rata-rata pengiriman via JNE per hari mencapai satu juta lantaran aktivitas pengiriman logistik kian sibuk.
 
Sebagai salah satu penyedia jasa ekspedisi, JNE meraup untung cukup banyak dari perubahan pola belanja masyarakat. Logistik pun kini menjadi bagian dari gaya hidup milenial di era digital.
 
"Apalagi e-commerce tumbuh dan kita bekerja sama sehingga menjadi penguat brand kita. Belanja di mana pun akhirnya dikirim via logistik dan kita beruntung banyak pengiriman, akibat berkah e-commerce," kata Feriadi dalam program top executive Metro Tv.
 
Feriadi mengungkapkan 70 persen pendapatan JNE berasal dari sektor ritel. Sisanya, disokong oleh korporat. Dari 70 persen pendapatan ritel itu, separuhnya bersumber dari transaksi e-commerce.
 
Bila melihat sebaran wilayah, transaksi terbesar masih berada di Jabodetabek lantaran didukung populasi yang padat. Sekitar 50 sampai 60 persen aktivitas pengiriman barang terjadi di wilayah tersebut, sisanya berasal dari luar Jabodetabek.
 
"Jadi itulah gambarannya seberapa besar kontribusi e-commerce terhadap revenue JNE kira-kira di kisaran angka 50 persen," terang Ketua Umum Asperindo ini.

Ekonomi Digital Genjot Pengiriman JNE

Peluang pertumbuhan perdagangan elektronik (e-commerce) semakin meningkat seiring tingginya minat konsumen terhadap transaksi virtual. Hal ini tercermin dari penjualan online di Indonesia yang sudah mencapai USD1,1 miliar.
 
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan industri e-commerce dalam negeri meningkat hingga 17 persen dengan total jumlah usaha e-commerce mencapai 26,2 juta unit.
 
Melansir riset terbaru Google dan Temasek, transaksi ekonomi digital Indonesia berada di peringkat pertama untuk kawasan Asia Tenggara dengan kontribusi sebesar 49 persen.
 
Proyeksi pertumbuhan ekonomi digital tersebut dipercaya mendongkrak pengiriman jasa logistik. Apalagi kebutuhan ruang gudang logistik diperkirakan meningkat sekitar 240 ribu m2 pada 2021. Saat ini, bisnis e commerce sudah menyumbang tiga persen dari total pasokan 8,1 juta m2 gudang logistik.
 
Head of Mass Media Relations JNE Idham Azka mengakui pertumbuhan e-commerce dan industri kreatif membuka kesempatan bagi perusahaan logistik untuk berkontribusi dalam proses pengiriman.
 
"Penguatan bisnis di industrf kreatif menjadi daya dorong yang baik secara bisnis di segmen logistik," katanya.
 
Perusahaan jasa pengiriman yang sudah berdiri 29 tahun itu pun menangkap peluang dengan menggandeng sejumlah marketplace seperti Tokopedia, Bukalapak dan Shoopee.
 
"Pelaku bisnis e-commerce sendiri mendominasi pelanggan kami. Sekitar 70 persen pelanggan berasal dari para pelaku bisnis jualan online, baik supplier maupun retailer," tambah Idham.
 
Selain kerja sama, JNE juga melakukan transformasi menuju platform digital agar tak kalah bersaing dengan perusahaan ekspedisi lainnya. JNE meluncurkan myjne.com dan aplikasi mobile untuk sistem pembayaran.
 
Pada aplikasi tersebut, para pelanggan bisa mengetahui terkait pengecekan tarif, tracking trace, hingga layanan pick up barang langsung ke lokasi pelanggan.
 
"Dengan pengembangan yang dilakukan di sektor IT, diharapkan bisa makin memudahkan para pelanggan menggunakan jasa JNE," pungkas dia.
 

(AHL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif