Waralaba Co Choc. (FOTO: dok Co Choc)
Waralaba Co Choc. (FOTO: dok Co Choc)

Mereguk Untung dari Bisnis Cokelat

Ekonomi dunia usaha cokelat
Ade Hapsari Lestarini • 08 Juli 2019 09:03
Jakarta: Siapa yang tak suka cokelat, rasanya yang pahit dan juga manis ini digandrungi oleh kalangan tua maupun muda. Hal ini seperti diterapkan oleh kemitraan bisnis waralaba gerai minuman segar Co Choc yang meningkat pesat.
 
Belum genap dua tahun, Co Choc sudah memiliki 52 outlet di sejumlah kota di Indonesia. Peningkatan itu terjadi karena pola bisnis waralaba yang diterapkan sederhana, terjangkau, dan profit yang menarik.
 
"Kenapa bisnis kami begitu cepat berkembang? Karena kami memiliki produk unik, harga kompetitif, dan kemitraan yang sederhana dengan investasi ringan," ujar salah satu petinggi grup Mitra Boga Ventura (MBV), pemilik brand Co Choc, Michael Marvy Jonathan, di sela-sela pameran International Franchise, License, and Business Concept Expo and Conference (IFRA) di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, akhir pekan lalu, seperti dikutip dalam keterangan tertulisnya, Senin, 8 Juli 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam pameran waralaba yang digelar 5-7 Juli itu, selain Co Cho, MBV juga menghadirkan Bakso Kemon. Marvy menjelaskan, Co Choc berasal dari Bandung dan didirikan pada 28 maret 2018. Saat ini Co Choc sudah memiliki 22 outlet yang beroperasi di Bandung, Cimahi, Jakarta, Bekasi, Tangerang, Medan, Padang, Makassar, Surabaya, dan Yogyakarta. Dalam tiga bulan ke depan, ada 30 outlet Co Choc terbaru yang akan dibuka di Bandung (tujuh outlet), Jabodetabek (12 outlet), Medan (empat outlet), Yogyakarta (satu outlet), Surabaya (tiga outlet), dan Padang sebanyak tiga tiga outlet.
 
Ia menjelaskan, produk unggulan Co Choc adalah variasi minuman cokelat dengan bahan dasar ganache (teknik memasak cokelat dari Prancis). "Co Choc adalah brand asli Indonesia yang merupakan pelopor minuman chocolate ganache," ungkap Marvy.
 
Menurut dia, ada perbedaan yang kental antara minuman cokelat di pasaran dengan minuman Co Choc. Minuman cokelat di pasaran dibuat secara sederhana, yakni bubuk cokelat dicampur cairan. Sedangkan di Co Choc, minuman cokelat disajikan dengan teknik ganache yakni cokelat diolah menjadi pasta. Pasta cokelat ini dicampur susu dan dihidangkan dalam kondisi dingin atau panas.
 
Marvy menambahkan, bahan baku cokelat itu berasal dari Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. Sehingga, Co Choc menghadirkan kekayaan cita rasa cokelat Indonesia. "Kami bekerja sama dengan petani cokelat dari berbagai daerah di Indonesia untuk mendapatkan biji kakao terbaik untuk menciptakan racikan minuman cokelat yang menggugah selera," tutur Marvy.
 
Ditambahkan, keunggulannya, produk minuman yang unik itu dijual dengan harga kompetitif yakni harga termurah Rp15 ribu hingga termahal Rp19 ribu. Gerai Co Choc menghadirkan 10 varian yakni signature dark chocolate, classic chocolate, choco strawberry, choco army, matcha, red velvet, west java, sumatera, thai tea, dan thai tea chocolate. Saat ini, varian paling digandrungi pembeli yakni signature dark chocolate yang dijual dengan harga Rp15 ribu per gelas.
 
Dana Kemitraan
 
Marvy melanjutkan, animo mitra untuk bekerja sama dengan BMV untuk membuka waralaba gerai Co Choc sangat tinggi karena kemitraan yang sederhana dan terjangkau. Ia mencontohkan, cukup dengan investasi awal Rp95 juta, mitra bisa langsung membuka usaha dengan estimasi net profit Rp 13,5 juta per bulan.
 
Ia merincikan dengan proyeksi penjualan rata-rata 100 gelas per hari seharga Rp18 ribu per gelas, berarti dapat meraup pendapatan sebesar Rp1,8 juta per hari atau sekitar Rp54 juta per bulan. Estimasi net profit sebesar 25 persen (setelah pemotongan biaya royalti lima persen), mitra bisa memperoleh Rp13,5 juta.
 
Marvy melanjutkan, untuk investasi awal para mitra cukup membayar fee kemitraan sebesar Rp50 juta untuk tiga tahun, lalu pembelian peralatan dan bahan baku awal Rp15 juta, dan pembuatan booth sebesar Rp30 juta, sehingga total Rp95 juta.
 
"Selama pameran IFRA ini, kami memberikan diskon 30 persen, jadi hanya Rp80 juta," kata dia.
 
Berdasarkan pengalaman 22 outlet yang sudah buka, break even point (BEP) tiap outlet sekitar 5-7 bulan. Namun, ada beberapa outlet yang sudah BEP di bulan pertama. "Setelah BEP, keuntungan sesudah dipotong biaya karyawan dan sewa, mitra bisa meraih 35 persen," tambah dia.
 
Sekjen Kementerian Perdagangan (Kemendag) Karyanto Suprih saat membuka IFRA 2019 mengatakan tahun ini perekonomian Indonesia akan melanjutkan momentum pertumbuhan. Diyakini, pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan mencapai 5,3 persen. Tentunya itu membuka peluang bagi pengembangan usaha, termasuk di bidang waralaba.
 
Menurut Karyanto, pangsa pasar waralaba di Indonesia cukup besar dan terus bertumbuh. Hal itu didukung tingginya permintaan terutama dari golongan masyarakat menengah. "Mereka membutuhkan ruang sosialisasi dan bergaul yang mendorong menjamurnya waralaba di bidang makanan dan minuman," ujar Karyanto.
 
Hal senada dikatakan Ketua Kehormatan Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) Anang Sukandar. Menurut dia, waralaba merupakan pilihan tepat bagi mereka yang ingin bekerja mandiri. Para pebisnis waralaba harus memiliki target untuk menjadikan bisnis mereka sebagai bisnis unggulan.
 
"Skema waralaba yang fleksibel dari sisi permodalan diharapkan mampu meningkatkan jumlah pebisnis waralaba di tahun ini. Apalagi saat ini Kementerian Perdagangan telah memberikan fasilitas berupa sistem perizinan yang semakin mudah, cepat, dan kondusif," pungkas dia.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif