Ilustrasi Go-Pay. (FOTO: Medcom.id/Eko Nordiansyah)
Ilustrasi Go-Pay. (FOTO: Medcom.id/Eko Nordiansyah)

Bank Dapat Ratusan Juta Tiap Bulan dari Biaya Isi Ulang Go-Pay

Ekonomi gojek go-pay
Eko Nordiansyah • 19 Maret 2018 11:00
Jakarta: PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Go-Jek) akan membebankan biaya? ?untuk setiap transaksi i?si ulang (top up) Go-Pay. Melalui keputusan ini maka akan ada pendapatan atau fee based income (FBI) yang didapat oleh bank.
 
Direktur Konsumer PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Handayani mengatakan, ada ratusan juta potensi pendapatan yang bisa didapatkan oleh bank. Pada 2017 lalu, jumlah transaksi top up Go-Pay via BRI sekitar 300 ribu transaksi per bulan.
 
"Tahun ini diperkirakan meningkat menjadi 400 ribu (transaksi) per bulan, sehingga potensi FBI sekitar Rp400 juta per bulan," kata dia kepada Medcom.id di Jakarta, Senin, 19 Maret 2018.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara itu, Bank Indonesia (BI) selaku pengawas sistem pembayaran tak masalah Go-Jek mengenakan biaya setiap transaksi isi ulang Go-Pay. Aturan ini dinilai sudah ada dari aturan yang pernah diterbitkan oleh bank sentral.
 
Peraturan Anggota Dewan Gubernur No.19/10/PADG/2017 tanggal 20 September 2017 tentang Gerbang Pembayaran Nasional/National Payment Gateway (PADG GPN) menyebutkan pengisian ulang di luar layanan (off us) diperbolehkan maksimal Rp1.500 per transaksi.
 
"Go-Pay sudah punya izin/license. Untuk top up e-money kalau off us sudah ada aturan di PADG GPN maksimum Rp1.500," kata Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Onny Widjanarko.
 
Sebelumnya, ada tujuh bank selain BRI yang akan mengenakan biaya isi ulang Go-Pay seperti PT Bank Central Asia Tbk (BCA), PT Bank Permata Tbk, PT CIMB Niaga Tbk, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN), PT Bank Mandiri (Persero), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI).
 

 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif