BI Perkuat Kerja Sama Mata Uang dengan Tiongkok
Ilustrasi Bank Indonesia (BI) MI/Usman Iskandar.
Nusa Dua: Bank Indonesia (BI) terus berupaya memperkuat kerja sama bilateral swap dengan berbagai negara lain dalam rangka meminimalisir tekanan global. Salah satu penguatan kerja sama yang dilakukan adalah dengan Bank Sentral Tiongkok.

Penguatan tersebut dibahas dalam pertemuan antara dua pimpinan bank sentral yakni Perry Warjiyo Gubernur BI dan Yi Gang Gubernur Bank Rakyat Tiongkok. Pertemuan dilakukan di sela-sela agenda tahunan IMF-Bank Dunia 2018 di Bali.

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengatakan penguatan kerja sama antarnegara yang terus diperkuat oleh Indonesia diharapkan dapat mendukung ketahanan ekonomi bangsa.

"Menghadapi risiko krisis yang terjadi ke depan kita harus diperkuat bilateral swap," kata Dody di Bali, Sabtu, 13 Oktober 2018.

Banyak transaksi antara Indonesia dan negara lain dalam bidang perdagangan dan investasi dilakukan menggunakan USD. Di tengah tekanan global seperti saat ini mata uang USD makin mahal harganya terhadap rupiah.

Akibatnya kebutuhan akan USD makin besar ketika harganya lebih mahal. Untuk memperkecil kebutuhan USD maka bank sentral melakukan kesepakatan bilateral swap.

Dengan swap yang dilakukan bersama negara lain maka setiap transasksi yang dilakukan menggunakan mata uang masing-masing negara bisa dilakukan tanpa menggunakan USD. Sehingga diharapkan pasokan USD di dalam negeri aman dan bisa menstabilkan mata uang rupiah.



(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id