Ilustrasi. (FOTO: MI)
Ilustrasi. (FOTO: MI)

Ekspor INKA, Unjuk Gigi Daya Saing Industri Manufaktur

Ekonomi inka persero industri manufaktur
Ilham wibowo • 21 Januari 2019 11:13
Jakarta: Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyebut industri kereta api nasional semakin menunjukkan daya saing di kancah internasional. Saat ini, ekspor oleh PT Industri Kereta Api (INKA) (Persero) bisa dilakukan ke negara nontradisional seperti Bangladesh dan Sri Lanka.
 
Menurut Airlangga, ekspor produk manufaktur lebih menguntungkan ketimbang ekspor komoditas. Sebab, sektor ini mempunyai daya tahan lebih kuat dan tidak terganggu gejolak naik turun harga komoditas.
 
"Kisah sukses INKA menunjukkan ekspor kita bukan melulu komoditas, 73 persen dari total ekspor sudah dari industri pengolahan. Ini membuktikan kekhawatiran tentang deindustrialisasi tidak terjadi," kata Airlangga melalui keterangan resmi, Senin, 21 Januari 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


INKA telah memulai pengiriman hasil tender yang nantinya berjumlah total 250 gerbong kereta penumpang ke Bangladesh. Proses ini diinisiasi sejak 2017 dengan nilai kontrak sebesar USD100,89 juta atau sekitar Rp1,4 triliun untuk Bangladesh Railway.
 
"Ini menunjukkan kemampuanengineering dan produk nasional sudah bisa menembus pasar ekspor sekaligus menembus pasar-pasar nontradisional," ujarnya.
 
Daya saing dan kompetensi membuat INKA yang berkompetisi di negara lain melalui tender tetap bisa memenangi persaingan. Menurut Airlangga, keunggulan kereta yang diekspor ini yakni dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang mencapai 65 persen.
 
"Kalau engineering dihitung sebagai local content, bisa mencapai 80 persen, ditambah sinergi dengan bahan baku lokal yang sudah tersedia," tuturnya.
 
Ekspor kereta produksi PT INKA (Persero) juga didukung dengan skema National Interest Account dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Dorongan ini dilakukan sebagai percepatan pertumbuhan ekonomi nasional.
 
"Ditambah lagi, sekarang pemerintah membantu melalui LPEI. Ke depannya, untuk ekspor produk seperti industri strategis harus dipaket dengan pembiayaan," ungkapnya.
 
Direktur Eksekutif LPEI Sinthya Roesly menyampaikan, ekspor yang dilakukan INKA memenuhi syarat mandat yang dijalankan oleh lembaganya, yaitu mendukung peningkatan ekspor nasional dan daya saing pelaku ekspor Indonesia.
 
"Pertama, TKDN-nya terpenuhi. Selain itu, memenuhi kemanfaatan pembangunan dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja dan supply chain-nya positif," paparnya.
 
Direktur Utama PT INKA Budi Noviantoro menyampaikan peluang industri perkeretaapian masih terbuka lebar seperti di Asia Selatan dan Afrika. Kualitas produk diutamakan dengan harga yang murah serta pengiriman cepat.
 
"Kereta ini didesain khusus dengan kebutuhan layanan di sana, misalnya muatan diperbanyak dan atap diperkuat," ujar Budi.
 

 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi