"Redenominasi, itu proyek saya tapi tidak berlanjut," kata Darmin, dalam acara Indonesia Economic Outlook 2016, di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Selasa (1/12/2015).
Menurut Darmin, tidak kunjung terimplementasinya redenominasi lebih disebabkan karena adanya persoalan politik. Dia mengaku jika banyak yang memandang kecurigaan terhadap redenominasi. Padahal, jika melihat negara-negara lain, satuan mata uangnya lebih sederhana dibanding Indonesia.
"Padahal, coba tanya orang Indonesia yang pergi umrah atau haji, mereka bawa uang segepok untuk ditukar real, dapatnya cuma seberapa lembar," ucapnya.
Dia juga memandang, dengan jumlah satuan yang banyak tentunya berakibat merugikan orang dan sangat bertolak belakang dengan pelajaran matematika di sekolah.
"Kita mempersulit anak-anak kita, di sekolah diajarkan 4+7=11 (pecahan sederhana), begitu beli permen bilangnya Rp5.000 (satuannya lebih besar), ini enggak nyambung dengan sekolah karena hitungannya terlalu banyak," jelas Darmin.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News