NEWSTICKER
Menteri BUMN Erick Thohir. Foto: Medcom/Suci Sedya Utami.
Menteri BUMN Erick Thohir. Foto: Medcom/Suci Sedya Utami.

Perusahaan Tiongkok Pesan Dua Juta Masker ke Erick Thohir

Ekonomi masker Virus Korona
Suci Sedya Utami • 11 Februari 2020 06:00
Jakarta: Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan peluang bisnis datang di tengah penyebaran wabah virus korona.
 
Ia bilang mendapatkan pesanan dari rekan bisnisnya di Tiongkok Suning Group untuk memasok dua juta masker ke negara Tirai Bambu tersebut. Pasalnya stok masker kian menipis, padahal benda tersebut sangat dibutuhkan saat ini.
 
"Saya sudah ditelepon Suning Group, yang dulu beli investasi saya di klub sepak bola Inter Milan. Dia mau beli dua juta masker. Saya juga bigung mintanya ke mana," kata Erick di Hotel Fairmont, Jakarta, Senin, 10 Februari 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut dia Indonesia dapat mengambil kesempatan tersebut. Ia yakin industri di Tanah Air bisa memproduksi masker yang dibutuhkan. Erick pun mendorong BUMN farmasi untuk memproduksi masker selain juga mengembangkan penemuan obat-obatan yang bisa mengurangi tekanan impor. Sebab bahan baku obat 90 persen berasal dari impor.
 
"Masker ada klasifikasinya, yang tingkat tinggi dan rendah. Kalau yang tinggi belum bisa bikin ya yang rendah. Kan ini perlu, enggak bisa hanya jadi market. Itu yang buat di industri. Seperti farmasi perlu mengantisipasi temuan-obatan baru jangan juga yang bahan bakunya dari kimia tapi yang berasal dari organik atau tumbuhan," ujar dia.
 
Kendati demikian, lanjut Erick, ia meminta agar barang produksi di dalam negeri tersebut nantinya jangan seluruhnya dijual ke luar. Ia bilang perlu juga untuk menyisihkan untuk kebutuhan dan antisipasi dalam negeri jika terjadi kondisi darurat.
 
"Semua masker diborong, lalu BUMN kirim masker ke Hong Kong. Amit-amit kalau ada apa-apa ke kita, kita kehabisan masker," jelas dia.
 
Sebelumnya Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia (Aspaki) saat ini fokus memenuhi kebutuhan dan permintaan masker dalam negeri. Ini sesuai pesanan yang masuk ke pabrik sebelum merebaknya virus korona tipe Novel Coronavirus (2019-nCoV).
 
"Permintaan ekspor tidak dapat semua dipenuhi, karena kami lebih fokus pada permintaan dalam negeri. Terutama komitmen untuk memenuhi pesanan yang telah masuk ke pabrik (sebelum wabah korona)," kata Manajer Eksekutif ASPAKI Ahyahudin Sodri kepada Medcom.id.
 
Ahyahudin mengakui permintaan masker melonjak lebih dari 100 persen imbas mewabahnya virus korona. Lantaran keterbatasan kapasitas dan bahan baku yang tersedia, produsen masker hanya mampu meningkatkan produksi hingga 70 persen.
 
"Karena keterbatasan kapasitas produksi pabrik dan bahan baku yang tersedia, anggota ASPAKI hanya dapat meningkatkan kapasitas 50 hingga 70 persen," tutur dia.

 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif