"Yang bisa jamin investasi di sini, tarif dan nontarif, biaya logistik dan keamanan investasi juga di sini. Kita di ASEAN bersaing dengan Kamboja dan Myanmar soal suku bunga. Kalau yang lain kita kalah," tegas Hafisz, ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (4/2/2016).
Biaya tarif dan nontarif tersebut, sebut dia, sangat diperlukan karena pajak di Indonesia masih tinggi. Sehingga menjadi beban bagi biaya produksi komoditas.
Pemerintah pun, klaim Hafisz, harus memberi kejelasan terkait dwelling time. Karena, dapat memberikan kemudahan barang-barang impor yang masuk ke negeri ini.
"Dengan keadaan itu, kami telah menyurati Menteri Perdagangan (Mendag) dan Menteri Perindustrian (Menperin) terkait masalah yang terjadi saat ini. Memang belum menurun (investasi), tapi kita (Indonesia) sudah menunjukkan lampu merah," jelas Hafisz.
Dia melanjutkan, Indonesia masih bisa memperbaiki sektor investasi agar industri yang sudah ada di Indonesia tidak banyak pindah (relokasi) ke negara lain.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News