Pedagang menunjukkan kantong plastik di Pasar Senen, Jakarta. (Foto: Antara/Nova Wahyudi)
Pedagang menunjukkan kantong plastik di Pasar Senen, Jakarta. (Foto: Antara/Nova Wahyudi)

Penerapan Cukai Plastik Dinilai sebagai Alternatif Pemasukan Negara

Ekonomi berita dpr
Anggi Tondi Martaon • 17 Juli 2019 13:19
Jakarta: Anggota Komisi XI DPR Amir Uskara menilai wacana penerapan cukai plastik bukan wacana baru. Lembaga legislatif mengklaim sudah lama mendorong pemerintah agar segera menyusun aturan tersebut.
 
Menurut Amir, alasan DPR mendorong wacana penerapan cukai plastik untuk mencari alternatif lain pemasukan negara. Selama ini pemerintah sangat bergantung pada cukai rokok.
 
"Jangan terus bergantung pada cukai rokok. Di beberapa negara, untuk gula sudah ada (diterapkan) di Thailand. Kita ingin seperti itu semuanya," kata Amir, dikutip dari dpr.go.id, Rabu, 17 Juli 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain menambah pemasukan negara, wacana penerapan cukai juga bertujuan untuk mengendalikan konsumsi plastik. Terlebih, limbah plastik saat ini dianggap merusak lingkungan.
 
"Artinya, apapun itu yang dilakukan, cukai itu kan merupakan bentuk dari pengendalian peredaran barang,” kata Politikus PPP itu.
 
Dibalik berbagai tujuan baik tersebut, dia memaklumi jika banyak pihak yang kontra terhadap wacana penerapan cukai plastik. Salah satunya disampaikan oleh sektor industri yang merupakan pengguna aktif bahan plastik.
 
“Cuma kan yang kita lihat ada manfaatnya buat masyarakat. Jangan fokus kepada mereka yang pro dan kontra. Tentunya pasti sudah dilihat baik buruknya juga. Saya kira, kami di DPR dari kemarin mendorong cukai plastik itu segera diberlakukan,” ujar dia.
 
Seperti diketahui, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengajukan wacana penerapan cukai plastik. Tujuannya untuk mengendalikan konsumsi plastik dan dampak buruknya pada lingkungan ketika menjadi sampah.
 
Adapun dasar hukum yang digunakan pemerintah yaitu Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai.

 

(ROS)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif