Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat menerima gelar doktor honoris causa. (FOTO: dok Kemenperin)
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat menerima gelar doktor honoris causa. (FOTO: dok Kemenperin)

Revolusi Industri Antar Menperin Raih Gelar Doktor Honoris Causa

Ekonomi kementerian perindustrian Revolusi Industri 4.0
Ade Hapsari Lestarini • 27 Juni 2019 13:20
Jakarta: Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto menerima penghargaan Doktor Honoris Causa di bidang Development Policy (kebijakan publik) dari KDI School of Public Policy, Korea Selatan (Korsel). Sekolah tersebut berafiliasi dengan lembaga riset The Korea Development Institute (KDI).
 
Saat ini, KDI yang berbasis di Kota Sejong, Korsel tersebut berada di 20 besar peringkat bagi lembaga riset terbaik dunia serta tercatat sebagai lembaga riset terbaik di kategori "Top International Development Policy Think Tanks".
 
"Sebuah kehormatan bagi saya untuk menerima gelar doctoral dari KDI School, karena sekolah ini merupakan institusi pendidikan dan riset yang diakui dunia dan telah berperan penting dalam pembangunan di Korea Selatan," kata Airlangga usai menerima penghargaan di Korea Selatan, Rabu waktu setempat, seperti dikutip dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Kamis, 27 Juni 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebagai menteri yang juga pernah menjabat anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Airlangga dinilai memiliki pengalaman mumpuni berkecimpung di bidang pelayanan publik. Sejak terpilih menjadi legislator pada 15 tahun lalu, putra dari almarhum Hartarto Sastrosoenarto (Menteri Perindustrian era Presiden Soeharto) ini turut aktif berkontribusi dalam menyusun berbagai kebijakan publik di Tanah Air.
 
Kebijakan yang ikut disusun Airlangga saat duduk di kursi legislatif, dianggap sebagai reformasi yang paling progresif di Indonesia, beberapa di antaranya Undang-undang Pertambangan dan Mineral, serta membantu merevisi Undang-undang Perindustrian dan Undang-undang Perdagangan.
 
"Ayah saya mengajari arti dan tujuan menjadi pelayan masyarakat. Hasratnya adalah melayani publik dan kecintaannya terhadap Tanah Air selalu memberikan inspirasi bagi saya, dan saya juga merasa diberkahi karena dapat melayani negara yang saya cintai. Ini semakin memberi tujuan dalam hidup," paparnya.
 
Berbekal pengalaman dan keahlian yang mumpuni di bidangnya, pada 2016, Airlangga didaulat untuk menakhodai Kementerian Perindustrian oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Peran baru tersebut dijadikan momentum olehnya untuk berkontribusi lebih besar pada Tanah Air, khususnya pada sektor perindustrian dan pembangunan lebih lanjut.
 
Salah satu terobosan yang sudah dilakukan antara lain, menjadi inisiator sekaligus motor dalam pengembangan revolusi industri 4.0 di Indonesia. "Saya ingin berterima kasih kepada Bapak Presiden Joko Widodo. Beliau adalah pemimpin yang telah mengerjakan banyak hal positif bagi negara kami," ujarnya.
 
Secara pribadi, menurutnya Presiden Jokowi adalah mentornya yang membuat dirinya mampu mendedikasikan untuk tujuan pembangunan Indonesia. "Beliau juga memberikan dukungan penuh untuk peluncuran peta jalan Making Indonesia 4.0 pada April 2018 lalu, yang menjadi salah satu kerangka pembangunan masa depan Indonesia," ungkapnya.
 
Airlangga pun menuturkan revolusi industri 4.0 yang membawa industri pada digitalisasi, diyakini menjadi kunci pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa mendatang. Dengan meningkatnya populasi anak muda, termasuk generasi milenial dan generasi Z, ekonomi Indonesia memperoleh bonus demografi yang akan mendorong ekonomi semakin maju, termasuk di bidang ekonomi digital. Aspirasi besar dari Making Indonesia 4.0 sendiri menjadikan Indonesia masuk ke dalam 10 perekonomian utama di dunia pada 2030.
 
"Yang sudah nampak unggul saat ini adalah empat unicorns asal Indonesia. Dua di antaranya, GoJek dan Tokopedia telah menjadi decacorns. Secara keseluruhan, perusahaan-perusahaan startup dan yang berhubungan dengan teknologi telah menyumbang USD10 miliar, dan pada 2025 ditargetkan berkontribusi USD150 miliar terhadap perekonomian nasional," jelasnya.
 
Dean of KDI School of Public Policy You Jong II menambahkan ada tiga kunci pencapaian yang membuat Menperin layak dianugerahi gelar Honorary PhD.
 
Pertama, pada September 2018, ketika mendampingi kunjungan Presiden RI, Airlangga berpartisipasi dalam Kerja Sama Industri Korea Selatan-Indonesia. Sebagai kelanjutannya, 15 MoU ditandatangani oleh perusahaan publik maupun privat di berbagai sektor, termasuk manufaktur, migas, engineering, lingkungan, hydropower, dan lainnya.
 
Poin kedua, menurutnya, adanya jalinan kerja sama yang penting antara Kemenperin dengan NRC, yang dapat mendukung inovasi industri dan menyiapkan menuju revolusi industri 4.0. Melalui MoU kedua belah pihak ini, kedua negara berkolaborasi di lima sektor strategis, yaitu industri tekstil dan pakaian, makanan dan minuman, elektronika, otmotif, dan kimia.
 
"Selain itu, berpartisipasi dalam banyak Korea Indonesia Business Forum, untuk meningkatkan investasi Korea di Indonesia, di sektor infrastruktur, energi, dan manufaktur, sehingga Korea menjadi investor terbesar kelima di Indonesia dalam lima tahun terakhir, yang menciptakan satu juta lapangan kerja di Indonesia," kata You.
 
Poin ketiga adalah menciptakan peluang kerja sama perdagangan bagi wirausaha Korea di sektor industri makanan, fesyen, dan kosmetik, yang menunjukkan peningkatan popularitas hallyu wave di Indonesia.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif