Direktur Utama Semen Indonesia, Suparni, mengakui banyak warga yang menolak pembangunan pabrik tersebut. Namun, perseroan tetap menghargai penolakan tersebut. Bahkan, perseroan berniat untuk menjalin silaturahmi dengan warga untuk penyelesaiannya.
"Kami hargai teman-teman yang masih kontra. Kami buka diri untuk bersilaturahmi. Kalau bagaimana titik temu untuk penyelesaian nanti," kata Suparni, di Kantor Kementerian BUMN, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (22/4/2016).
Suparni menjelaskan, pembangunan pabrik ini sesungguhnya memberikan manfaat bagi masyarakat Rembang. Pembangunan pabrik ini menyerap banyak tenaga kerja. Tercatat, dari total tenaga kerja di sana hampir 50 persennya adalah warga setempat.
"Yang bekerja di proyek itu ada 3.000 orang dan 40 sampai 50 persen dari Rembang dan selebihnya dari Jawa Tengah," jelas dia.
Sekadar informasi, warga yang tidak setuju dibangunnya pabrik ini beralasan kalau pabrik semen ini akan merusak alam. Salah satunya adalah merusak pegunungan kapur yang memiliki sumber air yang banyak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News