Kegiatan buruh rokok wanita di Kudus. (Foto: MTVN/Suci Sedya)
Kegiatan buruh rokok wanita di Kudus. (Foto: MTVN/Suci Sedya)

Melongok Buruh Wanita di Perusahaan Rokok Milik Konglomerat RI

Suci Sedya Utami • 20 Desember 2017 09:54
Kudus: Aroma tembakau terhirup sangat keras di hidung kala memasuki pabrik sigaret kretek tangan (SKT) milik PT Djarum. Ribuan pekerja berseragam biru muda sudah berjejer rapih di posisi masing-masing. Mereka sibuk melinting rokok.
 
Namun, sejauh mata memandang di pabrik dengan luas 20 hektare (ha) ini, Medcom.id tak melihat pekerja laki-laki yang bertugas melinting, merapihkan dan mengepak jutaan batang rokok di pabrik Djarum SKT Karangbener, Kudus.
 
Pekerja di perusahaan milik konglomerat Indonesia itu didominasi oleh kaum hawa yang kebanyakan adalah ibu rumah tangga. Dari jumlah pekerja sekitar 4.800 ini, kontribusi laki-laki bisa dihitung dengan jari di pabrik tersebut, yakni yang bekerja sebagai supervisor atau pengawas.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Pekerja di sini seluruhnya wanita. Laki-laki menjadi pengawas. Tadinya ada laki-laki yang melinting rokok, tapi seleksi alam maka dengan sendirinya yang bertahan kaum wanita. Lebih kuat, rajin, dan teliti," kata salah satu Supervisor, Rudy Tiyanto, Selasa, 19 Desember 2017.
 
Melongok Buruh Wanita di Perusahaan Rokok Milik Konglomerat RI
 
Para wanita ini pun mesti meninggalkan keluarga mereka di pagi hari demi mencari tambahan pundi-pundi keuangan untuk membantu bahkan menopang perekonomian keluarga. Mereka bekerja selama tujuh jam dai pukul enam pagi hingga satu siang.
 
Cara kerja mereka dibagi dalam tim. Satu tim terdiri dari dua orang, yang satu bertugas melinting dan satunya merapihkan rokok yang sudah dilinting jika terdapat sisa-sisa tembakau.
 
Dalam sehari, satu tim rata-rata bisa menghasilkan lintingan 4.000 batang rokok. Setiap 1.000 batang rokok, maka tim tersebut bakal mendapat upah Rp28 ribu. Jika dikalikan 4.000 maka yang didapat Rp112 ribu. Artinya setiap pekerja akan membawa penghasilan Rp56 ribu setiap harinya.
 
Dengan upah yang diterima dan jam kerja yang relatif cepat, para pekerja merasa nyaman bekerja di tempat tersebut. Banyak di antara mereka yang telah mengabdi dalam waktu yang cukup lama.
 
"Enak bekerja di sini, kerja dari pukul 6 pagi sampai pukul satu siang, dan dapat duit lumayan, buat nambah penghasilan keluarga karena setelah pulang bekerja, saya momong anak, ngurus keluarga lah," kata salah satu pekerja, Siti Agustiwati (32).
 
Tak hanya Siti, ada juga Masripah (50) yang telah bekerja selama 35 tahun. Dengan penghasilan tersebut, dia bilang sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga karena suaminya hanya seorang buruh bangunan.
 
"Namanya kerja, enak saja dapat duit. Dinikmati sama teman-teman," tutur Masripah.
 
Dari pantauan Medcom.id, nampaknya para pekerja cukup sejahtera. Sebab, Masripah pun menggunakan banyak perhiasan di tangannya atau Bahasa Jawa seringkali orang menyebut "emase nggrendel".
 
Melongok Buruh Wanita di Perusahaan Rokok Milik Konglomerat RI
 
Dalam sehari, produksi rokok SKT di pabrik ini mencapai 5,4 juta batang. Produksi ini memang semakin menurun. Jika biasaya produksi SKT menyumbang 32 persen pada produksi total, saat ini tinggal 20 persen. Hal itu karena beralihnya minat perokok SKT ke produk yang lebih modern ke sigaret kretek mesin (SKM).
 
Sementara memasuki pabrik SKM Djarum Oasis, suasananya sangat berbeda. Di pabrik yang luasnya mencapai 80 hektar ini, tak ada campur tangan manusia dalam proses pekerjaan produksi rokok. Semua diambilalih oleh mesin. Hanya beberapa pegawai penjaga atau pengecek mesin yang terlihat. Suara mesin menderu-deru saling beradu mulai dai proses linting, pengepresan, penyematan pita cukai hingga pengepakan diambilalih oleh mesin.
 
"Pekerja di pabrik SKM ini 600 orang terdiri dari bagian perawatan dan operator produksi," kata Senior Manager Maintenance PT Djarum, Aris Rahargiyanto.
 
Kapasitas produksi rokok di pabrik SKM tersebut sebanyak empat juta batang per shift selama delapan jam. Mesin-mesin yang diimpor langsung dari Jerman ini bekerja selama tiga shift dari pukul enam pagi sampai enam malam. Artinya, dalam waktu satu hari, jumlah rokok yang diproduksi sekitar 12 juta batang.
 
Sebagai gambaran, PT Djarum merupakan salah sat perusahaan milik Hartono bersaudara yang masuk dalam daftar orang terkaya versi Forbes 2017. Dalam catatan Forbes, Hartono bersaudara, yakni R. Budi dan Michael Hartono dengan nilai kekayaan mencapai USD32,3 miliar atau sekitar Rp436,05 triliun (kurs Rp13.500 per USD).
 
(AHL)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif