NEWSTICKER
Ilustrasi. Foto: Medcom.id
Ilustrasi. Foto: Medcom.id

Tantangan Berinvestasi di Tengah Wabah Korona

Ekonomi investasi Virus Korona
Antara • 28 Februari 2020 19:13
Tanjung Selor: Wabah virus korona baru atau Covid-2019 (coronavirus disease 2019) sejak mulai terdeteksi Desember 2019 hingga kini begitu cepat menyebar. Dideteksi dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok Desember 2019 sampai 27 Februari 2020, Covid-2019 dilaporkan sudah menyebar di 44 negara.
 
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) menyebutkan bahwa cara penyebaran virus korona terutama dari orang ke orang yang berhubungan dekat, yakni dalam jarak sekitar dua meter.
 
Persoalan akibat wabah COVID-2019 terus berlanjut, kabar terbaru cukup mengejutkan Indonesia dan dunia, yakni Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi secara resmi, Kamis, 27 Februari 2020 mengumumkan penangguhan visa dan keberangkatan umrah sementara waktu.
Penangguhan sementara waktu umrah tersebut dinilai sangat merugikan pihak travel karena batal memberangkatkan puluhan ribu calon jemaah umrah per minggu.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tapi, pihak travel dan jemaah setelah mendapat penjelasan pemerintah Indonesia dan Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah RI (Amphuri) memahami langkah pihak Arab Saudi untuk kepentingan lebih besar dalam upaya mencegah meluasnya korona. Secara ekonomi global, dampak wabah corona sudah sangat mempengaruhi dunia, lihat saja harga minyak jatuh untuk hari kelima berturut-turut pada akhir perdagangan Jumat pagi, 28 Februari 2020 ke level terendah dalam lebih dari satu tahun.

Dampak Ekonomi Global

Kekhawatiran dampak korona bagi perekonomian global diungkapkan Sekretaris dua Bidang Ekonomi Kedutaan Besar Australia Peter Simojoki di Tarakan, dalam kunjungan ke Kalimantan Utara, Kamis. Apalagi Jika terjadi wabah jangka panjang maka dampaknya sangat besar bagi ekonomi global sehingga Australia serius mendukung setiap upaya mengatasi Covid-2019.
Jika terjadi wabah jangka panjang, maka akan memengaruhi ekonomi global mengingat Tiongkok termasuk penggerak ekonomi dunia.
 
Bagi Negeri Kanguru itu kini sudah merasakan, misalnya nelayan di Australia Barat mengeluhkan jatuhnya harga lobster. Nelayan di Australia Barat mengeluh karena harga lobster yang terus turun. Bahkan, nelayan tidak mau melaut gara-gara harga sangat murah. Tiongkok adalah pembeli terbesar industri lobster bernilai ratusan juta dolar Australia.
 
Sebelum wabah korona, biasanya permintaan lobster dari Tiongkok akan mencapai puncaknya menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, hingga sekitar 40-50 ton per hari berdasarkan data koperasi di sana, yakni Geraldton Fishermen's Co-operative (GFC).
 
Bagi Kaltara, dampak dari wabah korona adalah jatuhnya harga sarang burung walet, yang sebelumnya Rp15 juta per kilogram (kg), kini Rp3 juta per kg. Beberapa komoditi ekspor ke Tiongkok juga jatuh termasuk udang, kerapu dan ramput laut.
 
"Tantangan bagi kita (Australia dan Indonesia) adalah melakukan diversifikasi usaha," katanya menjawab apa yang harus dilakukan terkait kondisi ekonomi global itu.
 
Pengalaman dari ketergantungan ekspor udang lobster ke Tiongkok membuka mata Australia perlu melakukan diversifikasi perdagangan dengan negara lain, termasuk Indonesia.

Peluang dan Tantangan

Wabah virus Korona, membuka mata Australia tentang peluang dan tantangan untuk memperkuat hubungan dagang dengan Indonesia. Faktanya, ujar dia dalam 10 tahun terakhir investor Australia hanya transit saja di Indonesia, sementara investasi mereka ditujukan ke Singapura, Hong Kong, Tiongkok, Jepang, dan korea.
 
Sebenarnya upaya serius sudah dilakukan baik Indonesia maupun Australia. Hubungan politik bilateral sudah memiliki daya tahan sehingga jika ada masalah maka cepat teratasi karena tingkat kepercayaan sekarang lebih tinggi ketimbang dulu.
 
"Tetapi, hubungan ekonomi belum memadai, padahal letak geografis sangat dekat. Dan setahu saya Australia dan Indonesia memiliki garis perbatasan terpanjang di dunia," ujarnya.
 
Pemerintah Australia dan Indonesia telah berusaha menciptakan ekosistem agar hubungan ekonomi lebih berkembang.
 
"Kami tidak bisa suruh pengusaha atau pedagang masuk ke Indonesia. Yang bisa dilakukan pemerintah Australia dan Indonesia bisa menciptakan iklim yang baik sehingga investor merasa aman dan nyaman berusaha disini," ujarnya.
 
Itu salah satu tujuan kemitraan atau kesepakatan komprehensif perdagangan bebas bilateral dinamakan "Indonesia Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA)" ditandatangani Maret 2019. Dengan diloloskan kesepakatan ini diharapkan investor Australia tertarik berinvestasi di Indonesia.
 
Australia serius membuka misi diplomatik dan perdagangan di Indonesia, terbukti negara membuka misi diplomatik and perdagangan di Indonesia di luar Jakarta, Bali dan Bandung, yakni Makassar serta Surabaya.
 
Selain membuka cabang, maka pihaknya proaktif dalam mendatangi provinsi-provinsi, termasuk Kaltara untuk memperkuat hubungan dagang serta membantu investor australia dalam mendapat peluang.
 
Kedubes Australia mengaku bahwa banyak mendapat laporan dari calon investor Negeri Kanguru itu bahwa salah satu kendala utama adalah birokrasi perizinan Indonesia yang rumit dan panjang. Australia berharap hal itu bisa segera dibenahi.
 
Menjawab tentang kegelisahan Australia terkait perizinan, Gubernur Kaltara Irianto Lambrie menjelaskan Indonesia sudah menyederhanakan birokrasi melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM PTSP) Provinsi Kaltara. Kaltara menyambut baik kedatangan degelasi Australia mengingat provinsi itu diharapkan jadi sentral pertumbuhan di wilayah Kalimantan.
 
Apalagi, sejalan kebijakan nasional ditunjuknya Kalimantan Timur sebagai Ibu Kota Negara (IKN).
Rencana investasi besar adalah membangun beberapa PLTA di sungai-sungai besar Kaltara dengan kapasitas belasan ribu megawatt. Beberapa investor untuk menggaraf potensi PLTA Sungai Kayan berkapasitas 9.000 MW oleh PT Kayan Hidro Energy, Sungai Sembakung 500 MW oleh PT Hannergy, Sungai Mentarang 1.775 oleh PT Sarawak Energy Berhad dan PT Kayan Patria. Sungai-sungai lainnya belum tergarap.
 
Potensi PLTA selain rencananya untuk dijual sebagai sumbet energi publik, juga bagi dukungan industri lain, termasuk pabrik nikel. Ternyata sudah beberapa investor besar Australia yang sudah berminat karena dalam waktu bersamaan dengan kunjungan wakil Kedubes Australia, sejumlah konsultan perusahaan Negeri Kanguru itu melihat langsung ke lapangan potensi Kaltara.
 
Usai melakukan survei awal, tim Fortescue Metals Group (FMG) Ltd -perusahaan asal Australia yang bergerak di bidang pengembangan energi milik konglomerat Australia, Mr. John Andrew Henry Forrest AO- bertemu langsung dengan Gubernur Kaltara.
 
FMG Ltd menaruh minat besar kepada pengembangan usahanya ke Kaltara, utamanya di bidang pengembangan energi ramah lingkungan. Australia juga berminat berinvestasi di Proyek Strategis Nasional (PSN) Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) Tanah Kuning-Mangkupadi, Bulungan, Kaltara seluas 10.100 hektare (ha).
 
Melihat keseriusan Australia itu, maka tampaknya peluang investasi sangat tergantung dari keberhasilan Indonesia dalam menghadapi virus global ini. Tentu jika suatu kawasan di karantina akibat Covid-2019, maka akan menakutkan siapa saja termasuk investor.

 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif