Virus Korona. Foto : AFP.
Virus Korona. Foto : AFP.

Semenjak Virus Korona Hadir Masker Penutup Mulut Langka di Pasaran

Ekonomi masker Virus Korona
Husen Miftahudin • 09 Februari 2020 15:03
Jakarta: Merebaknya virus korona berimbas pada kelangkaan masker penutup mulut di Tanah Air. Bila pun ada, harganya jauh di atas harga biasanya. Itu pun hanya masker kemasan, isinya dua hingga enam buah masker.
 
Medcom.id menelusuri beberapa penjual masker penutup mulut, dari toko obat kelontong, toko ritel modern, hingga aplikasi penjualan daring (marketplace). Hanya marketplace yang menjual masker secara lengkap, baik dalam bentuk kemasan maupun kotakan.
 
Sayangnya, harga masker yang ditawarkan jauh di atas harga biasanya. Di Tokopedia misalnya, harga masker penutup mulut kemasan dengan isi tiga buah berkisar antara Rp18 ribu hingga Rp28 ribu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara di Shopee, harganya sekitar Rp10 ribu hingga Rp30 ribu. Padahal sebelum virus korona merebak, masker penutup mulut kemasan hanya dijual dengan harga antara Rp5 ribu hingga Rp15 ribu.
 
Untuk kotakan, Tokopedia menjual masker penutup mulut antara Rp200 ribu hingga Rp235 ribu dengan isi 50 buah. Di Shopee, dari Rp75 ribu sampai Rp200 ribu. Biasanya, masker kotakan isi 50 pcs ini hanya dihargai Rp25 ribu hingga Rp50 ribu.
 
Di toko obat kelontong, apotek, dan toko ritel modern seperti Indomaret hanya tersedia masker kemasan. Itu pun persediaannya terbatas. Harganya masih terbilang normal meski mengalami kenaikan, antara Rp8 ribu hingga Rp10 ribu per kemasan dengan isi tiga buah.
 
"Kalau kotakan enggak ada, habis. Harganya selangit sekarang. Kalau kotakan itu biasanya se-boks Rp25 ribu isi 50 pieces, kalau sekarang sudah di atas Rp70 ribuan," ungkap penjual toko obat kelontong, Zulham, Minggu, 9 Februari 2020.
 
Sedangkan di retail kesehatan modern seperti Guardian dan Watsons, masker penutup mulut terjual habis. Masker kemasan maupun kotakan di toko tersebut ludes tak tersisa.
 
"Lagi kosong, masker yang sachet sama kotakan lagi pada kosong," ujar Melly, penjaja Guardian di salah satu mal Jakarta Barat.
 
Sebelumnya, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mendesak kepolisian mengusut tingginya harga masker di pasaran. Hal ini buntut mewabahnya virus korona di sejumlah negara.
 
Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi mengaku menerima banyak aduan dari masyarakat terkait melambungnya harga masker. Harga yang naik hingga 100 persen ini membuat stok masker di toko-toko semakin langka.
 
"Ini sebuah tindakan yang tidak bermoral, karena bentuk eksploitatif terhadap hak-hak konsumen, mengambil untung secara berlebihan di saat terjadinya musibah," kata Tulus dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 7 Februari 2020.
 
Selain aparat, YLKI juga meminta Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) untuk mengusut kasus tersebut. Tulus mengindikasikan adanya tindakan mengambil keuntungan berlebihan (exesive margin) yang dilakukan oleh pelaku usaha atau distributor tertentu.
 
"Menurut UU tentang Persaingan Usaha Tidak Sehat, tindakan exesive margin oleh pelaku usaha adalah hal yang dilarang," ujarnya.
 
Hingga hari ini, Komisi Kesehatan Tiongkok melaporkan total kematian pasien virus korona mencapai 813 orang. Sebanyak 811 kematian terjadi di Tiongkok, sementara dua lainnya masing-masing satu di Filipina dan Hong Kong.
 
(SAW)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif