Trade Expo Indonesia 2018

Dunia Mulai Lirik Makanan Nusantara Indonesia

Ilham wibowo 10 November 2018 09:20 WIB
eksporkementerian perdagangantrade expo indonesia
Dunia Mulai Lirik Makanan Nusantara Indonesia
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. (Foto: Medcom.id/Annisa Ayu)
Jakarta: Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengatakan produk makanan olahan Nusantara mendominasi sumber nilai transaksi di pameran dagang internasional atau Trade Expo Indonesia (TEI) 2018. Hasil ini menunjukkan inovasi produk yang menyesuaikan selera global.

Makanan olahan membukukan nilai transaksi sebesar USD434,51 juta (31,72 persen), lebih tinggi dari produk kimia sebesar USD143,36 juta (10,47 persen). Minyak kelapa sawit menempati posisi ketiga sebesar USD132,5 juta (9,67 persen) diikuti  produk perikanan sebesar USD64,45 juta (4,70 persen), dan kertas dan produk kertas sebesar USD54,71 juta (3,99 persen).

"Eksportir Indonesia mampu meyakinkan para buyers mancanegara untuk bertransaksi di tengah persaingan global yang semakin ketat. Artinya, eksportir mampu menghasilkan produk yang sesuai dengan selera pasar, berdaya saing tinggi dengan harga yang kompetitif, serta sikap profesional yang menumbuhkan kepercayaan dari kalangan buyers internasional," ucap Mendag di Jakarta, Jumat, 9 November 2018.

Nilai total pameran ekspor terbesar di Indonesia ini membukukan transaksi sebesar USD8,49 miliar atau senilai Rp127,33 triliun. Nilai ini meningkat lima kali lipat dibanding target yang telah ditetapkan sebelumnya yaitu sebesar USD1,5 miliar.

Dari sektor pembeli, Arab Saudi menjadi negara dengan transaksi terbanyak sebesar USD417,19 juta (30,45 persen). Kemudian disusul Jepang sebesar USD142,75 juta (10,42 persen); Inggris sebesar USD118,45 juta (8,65 persen); India sebesar USD98,39 juta (7,18 persen); dan Mesir sebesar USD80,46 juta (5,87 persen).

"Capaian ini semakin meningkatkan optimisme pencapaian target ekspor nonmigas 2018 sebesar 11 persen atau setara USD169,82 miliar," ungkap Enggar.

Beragam inovasi seperti desain dan kemasan produk dalam negeri harus terus diperbarui agar menjadi sebuah paket produksi yang menarik. Selain itu, penciptaan produk juga dilakukan untuk hal yang berkaitan dengan promosi baik promosi langsung ke pameran-pameran di seluruh dunia maupun lewat daring.

"Pada era revolusi industri 4.0, semua berubah sangat cepat. Dengan mengikuti perubahan  tersebut, kita tidak akan tertinggal. Selain itu, perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat dan Tiongkok seharusnya dapat menjadi peluang untuk memasuki pasar-pasar yang ditinggalkan dan perlu dimanfaatkan sebaik mungkin," pungkas Mendag.

 



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id