Beradaptasi dengan Digitaliasi ala KPBS
Aplikasi Milk Collection Point Mobile (MCPB) memudahkan para peternak mengetahui jumlah dan pendapatan yang mereka peroleh (Foto:Dok.Kemenkop UKM)
Jakarta: Memakai topi khas gunung dan berjaket merah untuk menahan udara dingin Pangalengan, Jajang dengan mengendarai motornya tiba di Milk Collection Point (MCP) Koperasi Peternakan Bandung Selatan.

Tangannya cekatan menurunkan wadah berwana perak yang diikatkan di jok belakang. Wadah tersebut berisi produksi susu segar yang dihasilkan dari ternak sapinya pada hari itu. 

Barisan  peternak sudah mengantre untuk menimbang produksi susu yang mereka bawa. Tiba gilirannya, Jajang langsung menuangkan susu  ke wadah besar terletak di atas timbangan digital. Juru timbang, mencatat hasilnya di sebuah ponsel yang terkoneksi secara digital. Di tangan Jajang, ponsel pintar  sudah siap.  Jumlah timbangan susu yang dibawa hari itu, langsung muncul  di ponselnya. Dia bisa segera mengetahui jumlah pendapatan dari produksi susu yang dibawanya. 

Proses transaksi itu tercatat melalui aplikasi yang disebut Milk Collection Point Mobile (MCPB).  MCPB ini dirancang Koperasi Peternakan Bandung Selatan Pangalengan (KPBS) untuk memudahkan para peternak yang membawa produksi susunya mengetahui jumlah dan pendapatan yang mereka peroleh pada saat itu juga. 

"Ini cara yang sangat memudahkan saya. Hanya dengan ponsel, saya bisa tahu berapa pendapatan saya hari ini. Semua transaksi terekam dalam aplikasi,” kata Jajang. 

KPBS yang berdiri sejak 1969 merupakan koperasi peternak sapi perah yang beranggotakan sekitar 2.800 peternak sapi dari Kecamatan Pangalengan, Kertasari, Pacet dan Kabupaten Bandung. Jumlah populasi sapi yang dimiliki anggota sebanyak 13.000 ekor dan 7.650 ekor. Koperasi mampu menghasilkan 2,5 juta kg produksi susu per bulan.  

Sejak 2015, pengurus KPBS melakukan prubahan dari sistem konvensional ke arah digitalisasi.  Model konvensional yang dijalankan KPBS sebelumnya membuat koperasi sulit berkembang. Terlihat dari model peternakan sapi perah masih tradisional, proses pengolahan susu membutuhkan waktu lama, risiko kerusakan susu tinggi, biaya penanganan susu sangat mahal, jangkauan pasar masih terbatas, proses administrasi masih sederhana.  

Suatu keharusan bagi KPBS membangun sistem pelayanan dan usaha yang terintegrasi teknologi untuk meningkatkan daya saing, namun tidak meninggalkan fungsi koperasi.  KPBS membangun sebuah system yang disebut Enterprise Resources Planning (ERP). 

Sejauh ini yang sudah dilakukan ialah digitalisasi penyimpanan data (cloud server); digitalisasi penerimaan susu dari anggota/peternak, yakni melalui milk collection point (MCP) dan Milk Collection Point Mobile (MCP-M); digitalisasi pendistribusian barang pakan; digitalisasi pelayanan kesehatan hewan; dan digitalisasi informasi pendapatan dan simpanan anggota.  

"Sekarang KPBS sedang memasuki era digitaliasi,” kata Ketua Umum KPBS Aun Gunawan. 



Era digitalisasi telah memberikan banyak manfaat bagi KPBS, antara lain menjaga mutu, informasi lebih cepat dan akurat, meminimalisir kesalahan, meningkatkan kepercayaan anggota dan pelanggan, koordinasi yang lebih baik, memiliki standar pelayanan,  dan dapat diakses di mana pun.  

Keberadaan MCP dengan sistem digital, misalnya  bertujuan untuk menjaga jumlah Total Plate Count (TCP) atau  bakteri   yang terkandung dalam susu serendah mungkin. Semakin rendah nilai TPC yang terkandung di dalam susu segar, maka semakin tinggi kualitasnya. Dengan sistem tersebut, peternak akan mendapatkan harga susu yang adil dan sesuai dengan kualitas susu yang dihasilkan.

Paling penting dari penerapan sistem digital ini adalah peningkatan penghasilan peternak. Peternak memperoleh jumlah yang akurat dan harga yang adil. 

Produksi susu segar dari KPBS saat ini terkenal dengan kualitasnya yang baik, ditunjang dengan kualitas iklim Pangalengan yang ideal untuk sapi perah. Karena itu, KPBS memiliki kemitraan  dengan beberapa pabrik pengolahan susu.   

Kinerja KPBS yang baik ini telah diganjar dengan Penghargaan Bakti Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah dari Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia. 

“Permintaan sangat tinggi, namun produksi masih terbatas,” kata Aung yang pernah menerima Tanda Kehormatan Satyalancana Wira Karya dari Presiden Republik Indonesia tahun 2017. 

Aun mengatakan di samping memproduksi susu untuk dipasok ke mitra, KPBS memanfaatkan pasar untuk produk turunan susu yang masih terbuka. KPBS sudah mengembangkan bisnis diversifikasi produk susu segar, seperti yoghurt, makanan ringan dan produk lainnya. 

Koperasi yang memiliki Unit BPR ini tengah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kinerja termasuk terus mempertahankan mutu susu segar dan meningkatkan produksi. Aung menegaskan kesejahteraan peternak dan anggota adalah tujuan utama dalam pengembangan usaha dan berbagai diversifikasi usaha yang dilakukan.



(ROS)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id