NU-Bukalapak Kolaborasi Hadapi Revolusi Industri 4.0. (Foto: dok NU)
NU-Bukalapak Kolaborasi Hadapi Revolusi Industri 4.0. (Foto: dok NU)

NU-Bukalapak Kolaborasi Hadapi Revolusi Industri 4.0

Ekonomi bukalapak nahdlatul ulama
Sobih AW Adnan • 28 Februari 2019 20:38
Kota Banjar: Nahdlatul Ulama (NU) menjalin kemitraan dengan salah satu startup unicorn di Indonesia, Bukalapak, sebagai upaya pengembangan ekonomi umat.
 
Hal tersebut direalisasikan melalui penandatanganan MoU antara NU dengan Bukalapak pada Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar NU 2019 di Ponpes Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, Rabu, 27 Februari 2019.
 
VP of Product Bukalapak Zakka Fauzan Muhammad menyatakan kerja sama Bukalapak dan NU untuk mengembangkan Usaha Kecil Menengah (UKM) di kalangan Nahdliyin supaya mampu bersaing menghadapi revolusi industri 4.0.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ekonomi grass root di Nahdliyin kita sama-sama dorong go digital. Dengan kolaborasi ini, NU akan membentuk marketplace sendiri. NU akan punya white label sendiri," ucap Zakka, usai penandatanganan MoU bersama Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, seperti dikutip dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 28 Februari 2019.
 
Senada, Kiai Said pada pembukaan Munas-Konbes NU 2019 juga menyoal tantangan revolusi industri 4.0 yang harus dihadapi warga NU.
 
"Masyarakat Indonesia, khususnya warga NU harus siap menghadapi revolusi industri 4.0, yang bertumpu pada penggunaan massif teknologi informasi berbasis internet, artificial intelegence (kecerdasan buatan) dan analisis big data," ucap Kiai Said.
 
Dirinya menambahkan sektor pertanian merupakan penyumbang produk domestik bruto (PDB) terbesar kedua di Indonesia. Menurutnya, 82 persen masyarakat Indonesia bergantung pada sektor pertanian, akan tetapi 30 persen dari jumlah tersebut merupakan petani tradisional.
 
"Yang terseok-seok di tengah gelombang revolusi industri 4.0. Masih sangat ketinggalan para petani kita," katanya.
 
Tak hanya Kiai Said, Rais ‘Aam PBNU KH Miftachul Akhyar pun dalam pidatonya menyinggung tantangan NU di era digital. Menuju usia satu abad, kata Kiai Miftah, NU perlu menyiapkan 4G, yaitu Grand Idea, Grand Design, Grand Strategy, dan Grand Control.
 
"Ini PR (pekerjaan rumah) NU yang perlu dirumuskan dalam Munas-Konbes saat ini. Sebab jika tidak dikelola dengan baik, kita jadi bulan-bulanan yang diperebutkan oleh orang lain," ungkapnya.
 
Sementara itu, Presiden RI Joko Widodo dalam sambutannya menegaskan bahwa revolusi industri 4.0 bukan lagi bayangan, tetapi sudah datang.
 
"Persaingan global di era revolusi industri keempat menuntut persiapan sumber daya manusia yang unggul. Maka kita akan mendirikan 1.000 BLK (Balai Latihan Kerja) untuk komunitas pesantren," katanya.
 
Acara pembukaan Munas-Konbes itu dihadiri sejumlah menteri Kabinet Kerja Susi Pudjiastuti, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri BUMN Rini Soemarno, dan Menkominfo Rudiantara.
 
Hadir pula Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Gubernur Jawa Timur yang juga Ketua PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa. Ulama internasional, Syekh Taufiq Ramadhan Al-Buthi Suriah, Syekh Musthafa Zahran dari Mesir, Mustasyar PBNU KH Ma'ruf Amin, dan ulama dari berbagai daerah.
 

(AHL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif