Sebuah helikopter terlihat melaju usai lepas landas di kawasan Helipad Kemang, Jakarta (ANTARA FOTO/Reno Esnir)
Sebuah helikopter terlihat melaju usai lepas landas di kawasan Helipad Kemang, Jakarta (ANTARA FOTO/Reno Esnir)

Menakar Manfaat Helipad di Gedung Tinggi

Ekonomi transportasi helikopter
Angga Bratadharma • 09 Mei 2017 09:39
medcom.id, Jakarta: Pemerintah telah menetapkan aturan tentang standar dan keselamatan gedung tinggi sebagai pencegahan terhadap ancaman darurat, misalnya, kebakaran. Aturan ini memuat dua poin utama yaitu pembangunan landasan helikopter atau yang dikenal sebagai helipad di atas gedung dan tangga darurat yang terletak di luar gedung.
 
Aturan itu disebut sangat berguna untuk mengantisipasi keadaan darurat untuk penyelamatan. Maka, tidak berlebihan rasanya ketika beberapa pusat perbelanjaan dan perumahan elite membangun helipad dilintasi teratas gedung dan lokasi yang menjadi area erumahan elite. Fasilitas demikian bisa kita temui disejumlah rumah sakit, mal, perkantoran dan hotel.
 
Aturan tersebut sesungguhnya tidak hanya untuk gedung-gedung tinggi seperti perkantoran, apartemen dan pusat perbelanjaan, tapi juga pengembang wajib membangun helipad untuk kawasan rusunami (rumah susun sederhana milik). Semua aturan tersebut kemudian dituangkan dalam revisi Surat Edaran Menteri PUPR yang efektif berlaku pada 2016 lalu.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain untuk kepentingan darurat dan keselamatan, keberadaan helipad menjadi penting bagi para pebisnis yang sering menggunakan helikopter sebagai transportasi alternatif untuk mensiasati tingkat kemacetanyang kian parah di ibu kota dan pengelola gedung dapat mengoptimalisasi helipad ini sebagai sumber pendapatan yang lain.
 
Terkait hal itu, HeliCity, salah satu operator transportasi helikopter yang dikelola PT Whitesky Aviation, sangat mendukung peraturan pemerintah tersebut. Apalagi, kondisi tersebut bisa memberi efek positif terhadap lancarnya aktivitas bisnis dan berkontribusi terhadap perekonomian secara keseluruhan.
 
"Tentu kami sangat mendukung implementasi peraturan tersebut. Untuk kebutuhan darurat memang dibutuhkan sarana evakuasi yang cepat. Salah satu alternatifnya dengan menggunakan helikopter,"ujarCEO Whitesky Aviation Denon Prawiraatmadja, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Selasa 9 Mei 2017.
 
Beberapa pengalaman yang diterima dari para customer selama ini memberikan respons positif terkait helikopter sebagai moda transportasi pilihan. Namun mereka merasakan minimnya sarana helipad untuk mendaratnya helikopter itu.
 
"Kota sebesar Jakarta sebaiknya memanfaatkan teknologi helikopter untuk dapat mendukung semua kebutuhan yang diperlukan seperti halnya dibeberapa kota besar seperti Sao Paulo, Seoul, New York, atau London,"kata Denon.
 
Soal kemacetan, perusahaan teknologi aplikasi navigasi lalu lintas Waze pada 2015 menempatkan DKI Jakarta di posisi kedua tingkat kepuasan berkendara terburuk di dunia. Rata-rata pengemudi di Jakarta menghabiskan waktu selama 42,1 menit ketika bepergian dari rumah menuju kantor.
 
Angka ini hanya berbeda tipis dengan Kota Manila, Filipina yang menempati urutan pertama. Rata-rata pengemudi di Manila menghabiskan waktu bepergian dari rumah menuju kantor selama 45,5 menit. Penilaian ini tidak terlepas dari masalah polusi, kemacetan, kualitas jalan yang buruk, lahan parker, serta harga bahan bakar minyak yang dinilai mahal oleh masyarakat.
 
Menurut Waze, buruknya infrastruktur di Jakarta dirasakan juga oleh para pebisnis lokal maupun asing saat berkunjung ke kota ini. Karena itu, para pebisnis kerap menggunakan helikopter sebagai transportasi alternatif untuk mencapai kantor, tempat pertemuan dan lokasi bersantai seperti area golf yang jaraknya puluhan kilometer dari Jakarta.
 

 

(ABD)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif