Kini, lahan ribuan hektare itu subur nan menghijau. Semuanya itu berkat aliran air dari Embung Tegaldowo seluas 1,3 hektare yang mulai beroperasi Desember lalu.
Embung yang berada di antara perbukitan kapur tersebut mengalirkan air jernih lewat saluran irigasi ke persawahan dan area kebun rakyat.
Embung yang berada di perbatasaan dengan Kabupaten Blora itu juga memenuhi kebutuhan air bersih ribuan warga Dusun Wuni dan Kajar.
"Dulu untuk mencari air bersih, kami harus berjalan hingga 3 kilometer. Sekarang di setiap rumah sudah mengalir air bersih yang bersumber dari embung itu," kata Rukmini, 45, warga Dusun Wuni.
Kegembiraan juga terpancar dari Kepala Desa Tegaldowo Suntono. Menurutnya, desanya dulu gersang dengan angka kemiskinan tinggi. Namun, kini rakyat dapat menatap masa depan dengan cerah berkat jaminan pasokan air.
"Bahkan desa ini sekarang menjadi daerah kunjungan wisata. Keindahan alam perbukitan dan Embung Tegaldowo menjadi daya tarik baru warga sekitar," kata Sutono.
"Maka, di sepanjang pinggiran embung kami percantik dan lengkapi dengan berbagai sarana dan prasarana, seperti arena permainan, taman, dan gazebo," tambahnya.

Laskar Brotoseno menerima penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia
Rasa syukur atas keberadaan embung yang dibangun PT Semen Indonesia, yang telah memberikan kehidupan baru bagi ribuan warga sekitar, diwujudkan dengan ritual khusus bersamaan dengan peringatan Hari Air Sedunia Rabu 22 Maret lalu.
Ritual itu malah menjadi ikon budaya baru sehingga banyak wisatawan dari berbagai daerah datang.
Belum puas dengan rasa syukur atas kelimpahan air, sekitar 3.000 warga dari desa sekitar pabrik (Kadiwono, Kajar, Pasucen, Timbrangan, Suntri, Dowan), kemarin, berbondong-bondong datang ke Embung Tegaldowo.
Mereka menyampaikan dukungan moral demi keberlangsungan operasional pabrik PT Semen Indonesia (persero) Tbk di Rembang.
Mereka menulis 'surat cinta' kepada Presiden Joko Widodo dengan membubuhkan tanda tangan pada kertas sak semen sepanjang 300 meter.
"Ini bukti dukungan agar pabrik Semen Indonesia di Rembang ini dilanjutkan," kata Ketua Laskar Brotoseno, Achmad Akhid.
Laskar Brotoseno, pemrakarsa acara itu, menerima penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia sebagai penyelenggara menulis di atas kertas semen terpanjang.
Bupati Rembang Abdul Hafidz mengatakan, meskipun pabrik belum beroperasi, program PT Semen Indonesia untuk kesejahteraan telah memberikan manfaat bagi warga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News