Ilustrasi tembakau. (FOTO: MTVN/Dian Ihsan Siregar)
Ilustrasi tembakau. (FOTO: MTVN/Dian Ihsan Siregar)

Setelah Bermitra, Penjualan Petani Tembakau Lombok Meningkat

Ekonomi hm sampoerna petani tembakau
Dian Ihsan Siregar • 08 September 2017 15:05
medcom.id, Lombok: Lahan tembakau terbentang luas di daratan Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Tak ayal, tembakau menjadi mata pencahariaan utama di samping bertani dan berternak kambing.
 
Cuaca Lombok yang cenderung terik, membuat tembakau sangat cocok untuk ditanam. Kendati asap dari bahan baku rokok tersebut bisa menimbulkan penyakit dan kematian.
 
Namun demikian, salah satu petani tembakau asal Pijot Utara, Lombok Timur, Mu'min (41) sangat fokus mencari rezeki dengan mengolah lahan pertanian tembakau. Menjadi petani tembakau, sudah dilakoninya sejak 1992.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mu'min memperoleh penghasilan sebanyak Rp50 juta-Rp60 juta tiap tahunnya dari lahan tembakau seluas satu hektare (ha). Tembakau yang dibudidayakan oleh dirinya adalah jenis Virginia.
 
"Tapi, dia mengaku kini penghasilan bertambah drastis karena program kemitraan bersama HM Sampoerna," ucap Mu'min kepada media di Lombok Timur, seperti diberitakan Jumat 8 September 2017.
 
Melalui program Integrated Production System (IPS), Sampoerna menjalin kemitraan dengan para petani tembakau yang ada di Lombok dan beberapa daerah lainnya yang ada di Indonesia. Karena, tembakau yang didapatkan hasil dari binaan perusahaan yang induknya berada di negeri Paman Sam memiliki kualitas yang baik.
 
Petani tembakau di Lombok diajarkan cara bertani bahan baku rokok yang baik, mulai dari cara penanaman benih, pemupukan, panen, hingga pengolahan daun tembakau. Semua petani pun tak perlu khawatir soal penjualan hasil panen mereka. Melalui perusahaan pemasok Sampoerna, PT Sadhana Arifnusa, hasil panen para petani mitra Sampoerna sudah pasti dibeli pemasok berkat adanya kontrak antara petani dan pemasok.
 
"Sebelum kemitraan hanya Rp10 juta tiap hektarnya, kini setelah bermitra kita dapat penjualan sebesar Rp50 juta-Rp60 juta tiap ha, tapi pernah juga Rp45 juta. Itu perbedaan tergantung hasil olahan tembakaunya baik apa tidak, semakin daunnya seperti emas, semakin mahal," tegas dia.
 
Petani lainnya, Mahdi (32) menerangkan, hasil dari kemitraan bersama perusahaan Sampoerna memberikan dampak yang bagus bagi petani yang ada di Lombok. Selama tujuh tahun bertani tembakau, dia baru merasakan sangat melejitnya penjualan hasil tembakau yang diolahnya tiap tahunnya.
 
"Sudah tujuh tahun menjadi petani tembakau di Pijot Utara. Masuk ke Gudang Sadhana baru tiga tahun. Setelah masuk ke Sadhana penjualan petani sangat terasa," tukas Mahdi.
 

(AHL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif