Ilustrasi. Foto: dok MI/Susanto.
Ilustrasi. Foto: dok MI/Susanto.

Uang Tunai Belum Tergeser Uang Digital

Ekonomi bank indonesia transaksi non tunai
Media Indonesia • 13 Januari 2020 07:09
Makassar: Makin maraknya penggunaan sistem pembayaran digital, dalam jangka pendek diyakini belum akan menghentikan peredaran uang untuk bertransaksi di Indonesia. Pasalnya, pembayaran digital yang menggunakan QR code belum dapat menjangkau hingga seluruh lapisan masyarakat, khususnya yang berada di pelosok.
 
Direktur Eksekutif Departemen Penyelenggara Sistem Pembayaran (DPSP) Bank Indonesia (BI) Pungky Purnomo Wibowo mengatakan sebagai sebuah negara, Indonesia memiliki keunikan sendiri, yakni letak geografis serta keberagaman suku dan budaya. Hal itu yang membuat peredaran uang tunai masih dibutuhkan.
 
"Kita melihat bahwa lokasi geografis kita itu berbeda dan juga bergantung dengan infrastukturnya. Jadi, uang logam dan kertas masih ada. Selain itu, tidak semua orang punya smartphone. Jadi, uang itu tetap ada dan bertumbuh, tapi tumbuhnya pelan banget," ungkapnya dalam sebuah diskusi di sela-sela kegiatan Kawasan Timur Indonesia Digi Fest 2020 di Makassar, Sulawesi Selatan, akhir pekan lalu.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Meski demikian, sambungnya, BI akan tetap gencar memperkenalkan Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS) yang telah diluncurkan mereka pada 1 Agustus 2019. QRIS merupakan pemersatu QR code yang akan dipindai perangkat elektronik untuk alat pembayaran seperti GoPay, OVO, LinkAja, dan DANA.
 
Hingga kini, QRIS telah menyasar 1,7 juta pedagang (gerai), khususnya pelaku usaha kecil. QRIS makin diminati pelaku usaha lantaran memiliki keuntungan tersendiri, misalnya terhindar dari pungutan liar (pungli).
 
"Dengan adanya QRIS, sudah enggak akan ada lagi pungli karena uangnya langsung masuk rekening bank. Ini tidak hanya mempermudah, tetapi juga menaikkan kelas mereka. Tapi tentunya BI juga enggak bisa jalan sendirian. Kita ajak industri dan juga berbagai kementerian untuk jalan bersama," lanjut Pungki.
 
Dengan menyadari potensi yang besar itu, Pungki optimistis hingga akhir 2020 merchant yang menggunakan QRIS dapat menyentuh angka 15 juta.
 
Ia menyebutkan, dalam mencapai target tersebut, BI fokus untuk menyasar sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terlebih dahulu karena jumlahnya yang mencapai sekitar 60 juta di Indonesia.
 
"Kami juga ingin menyasar pasar tradisional, kampus, dan kegiatan-kegiatan amal di rumah ibadah," jelasnya.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif