Menko Maritim Luhut Pandjaitan. FOTO: Medcom.id/Annisa Ayu.
Menko Maritim Luhut Pandjaitan. FOTO: Medcom.id/Annisa Ayu.

RI Siap Ambil Alih Kendali Ruang Udara Bertahap

Ekonomi indonesia-singapura wilayah informasi penerbangan/fir
Suci Sedya Utami • 11 Oktober 2019 18:28
Jakarta: Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan tindak lanjut mengenai negosiasi flight information region (FIR) atau kendali ruang udara antara Indonesia-Singapura dilakukan secara bertahap.
 
Begitu juga dengan potensi mengenai Indonesia untuk mengambil alih semua pengendalian ruang udara di sekitar wilayah Kepulauan Riau dan Natuna dari tangan Singapura.
 
Luhut mengatakan negosiasi tersebut menjadi gambaran bahwa Singapura percaua dengan Indonesia. Ia bilang Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo dianggap kredibel.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Bertahap semua akan berjalan. Sekarang negosiasi teknis sedang berjalan, kita tunggu saja," kata Luhut di Kemenko Kemaritiman, Jakarta Pusat, Jumat, 11 Oktober 2019.
 
Saat ini, ruang udara di Kepulauan Riau dan Natuna dikelola oleh Malaysia dan Singapura. Hal ini terjadi karena penetapan kavling-kavling pelayanan navigasi udara oleh International Civil Aviation Organization (ICAO) terbentuk sebelum Indonesia merdeka.
 
Ruang udara di Batam dan Natuna adalah bagian dari FIR blok A. Selain itu, terdapat pula blok B dan C yang berada di atas perairan Natuna.
 
Sektor A mencakup wilayah udara di atas 8 kilometer sepanjang Batam dan Singapura. Sektor B mencakup kawasan udara di atas Tanjung Pinang dan Karimun.
 
Sementara itu, sektor C yang berada di wilayah udara Natuna dibagi menjadi dua, Singapura mengendalikan di atas 24.500 kaki, dan Malaysia di bawah 24.500 kaki.
 
Sebelumnya Indonesia dan Singapura sepakat terhadap negosiasi FIR. Luhut mengatakan kedua negara telah melakukan kesepakatan terhadap framework pada 12 September dan 7 Oktober lalu, tim teknis masing-masing negara telah bertemu. Negosiasi dilakukan setelah puluhan tahun dari 1946.
 
"Prosesnya dirasa lama karena negosiasi harus memberikan win-win solution. Kalau selama ini ada yang salah, sekarang kita sedang memperbaikinya. Jadi kalau ada yang mengkaitkan nasionalisme dengan FIR ini, tidak benar," jelas Luhut.
 
Luhut menambahkan Presiden Jokowi berpesan agar pertemuan-pertemuan untuk lebih diintensifkan demi tercapainya kesepakatan tersebut. Luhut bilang dari sisi sumber daya manusia dan peralatan, Indonesia sudah siap untuk mengambil alih.
 
Pada 1993, Indonesia pernah mencoba mengambil kembali FIR pada pertemuan ICAO di Bangkok, namun gagal karena Indonesia dianggap belum memiliki peralatan dan infrastruktur yang memadai.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif