Ilustrasi bandara. (FOTO: ANTARA/Widodo S. Jusuf)
Ilustrasi bandara. (FOTO: ANTARA/Widodo S. Jusuf)

AirNav Tekan Antrean Pesawat Demi Efisiensi Maskapai

Ekonomi airnav
Husen Miftahudin • 30 Desember 2016 20:42
medcom.id, Bogor: Perusahaan Umum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (Perum LPPNPI) atau AirNav Indonesia terus menekan antrean pesawat (holding), baik di udara maupun di darat. Ini diperlukan untuk mendorong efisiensi maskapai pesawat terbang tersebut.
 
Direktur Operasional AirNav Indonesia Wisnu Darjono mengakui untuk holding pesawat membuat maskapai penerbangan tersebut harus menambah kocek operasionalnya. Satu menit holding di udara untuk mendarat, membutuhkan anggaran operasional tambahan sebanyak Rp2,79 juta.
 
"Menunggu antrean kan pesawat tidak bisa berhenti, dia harus muter-muter di atas bandara. Itu menghabiskan bahan bakar. Dengan harga avtur Rp11.000 per liter, maka satu menit holding di udara menambah anggaran operasional terbang pesawat itu sampai Rp2,7 juta lebih," ujar Wisnu dalam Media Gathering AirNav Indonesia di Bumi Cikeas Resort, Bogor, Jumat (30/12/2016).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara, lanjutnya, untuk satu menit holding di darat (menunggu antrean untuk lepas landas) membutuhkan tambahan biaya anggaran operasional pesawat tersebut sebesar Rp80 ribu. Selama 2015, AirNav Indonesia mencatat tambahan biaya operasional yang dikeluarkan pesawat akibat holding di udara dan darat mencapai Rp2,5 triliun.
 
Hal tersebut dinilainya sebagai tantangan tersendiri bagi AirNav Indonesia. Maka itu, AirNav terus membenahi dan memodernisasi sistem mereka agar holding pesawat tidak memakan waktu yang lama.
 
"Ini tantangan kenapa Airnav harus berusaha keras. Holding di udara jangan lama-lama, holding di darat juga jangan lama-lama," tegas dia.
 
‎Menurutnya, antrean panjang holding pesawat terbang tidak hanya berkaitan dengan efisiensi maskapai semata. Namun, hal ini juga berkaitan dengan emisi gas buang pesawat.
 
"Jadi bagaimana holding jangan terlalu lama. Bukan hanya uang saja, tapi juga kaitannya dengan green house effect. Karena Indonesia juga sepakat untuk menekan emisi gas buang," tutup Wisnu.
 
(AHL)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif