Kunjungan Presiden Joko Widodo ke India. AFP PHOTO/MONEY SHARMA.
Kunjungan Presiden Joko Widodo ke India. AFP PHOTO/MONEY SHARMA.

Kadin dan India Jajaki Kerja Sama Enam Sektor Utama

Arif Wicaksono • 14 Desember 2016 19:43
Metrovnews.com, New Delhi: Kamar Dagang dan Industri  Indonesia (Kadin) bersama Confederation of Indian Industry (CII) sepakat untuk meningkatkan kerja sama perdagangan dan investasi dua negara dengan mengadendakan pertemuan lanjutan CEO Forum di Indonesia pada 2017. 
 
Hal tersebut diungkapkan Ketua Kadin Rosan P. Roeslani setelah melakukan pertemuan bersama sejumlah CEO perusahaan terkemuka Indonesia dengan sejumlah CEO perusahaan terkemuka India dalam CEO Forum yang berlangsung di New Delhi India. Menurut Rosan melalui Joint Statement para pelaku usaha dua negara sepakat untuk mengejar target ambisius 50:50. 
 
"Indonesia dan India harus fokus untuk meningkatkan kerja sama perdagangan dan investasi dengan menetapkan target ambisius total perdagangan USD50 miliar dan total investasi kedua negara USD50 miliar pada 2025," jelas dia dikutip dari Keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu (14/12/2016). 

Rosan menambahkan, guna mencapai target tersebut, Kadin tidak bisa bekerja sendiri namun harus ada sinergi antara pemerintah dan swasta serta membuat aksi bersama.
 
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Hubungan Internasional Shinta Widjaja Kamdani menjelaskan bahwa sejarah hubungan antara Indonesia dan India sudah terjalin melalui hubungan budaya dan perdagangan. 
 
Shinta juga menambahkan, bahwa di tengah melemahnya perekonomian global, Indonesia dan India memiliki pertumbuhan ekonomi yang cukup baik hingga sangat mungkin untuk meraih capaian baru dalam konteks investasi dan perdagangan dua negara. 
 
Guna meraih target investasi dan perdagangan 50:50, para pelaku usaha dua negara menyepakati bahwa Perlu ada investasi baru baik dari pemerintah maupun perusahaan swasta. Untuk itu, diidentifikasi bahwa ada enam sektor utama yang penting untuk diperhatikan dalam peningkatan kerja sama ekonomi yakni: 
 
Sektor pertama, Pertambangan, sebagai salah satu produsen dan pengekspor terbesar batu bara Indonesia saat ini berada di ranking 10 untuk cadangan batu bara, memiliki setidaknya 3,1 persen dari cadangan batu bara global yang sudah proven berdasarkan BP statistical Review of World Energy. 
 
Peraturan pertambangan di Indonesia perlu dikaji kembali dan perlu dilihat kemungkinan untuk memperpanjang jangka waktu kontrak pertambangan batu bara. Disarankan agar perusahaan listrik/energi India dapat melalukan penambangan di Indonesia guna memenuhi kebutuhan listrik Indonesia sekaligus mengekspornya ke India.
 
Sektor kedua adalah infrastruktur. India dan Indonesia sangat membutuhkan perbaikan infrastruktur seperti infrastruktur logistik (jalur kereta api, green/brown field airports, elektrifikasi tenaga surya untuk bandara kecil, pengembangan dan perencanaan smart cities dan membuat jalur penerbangan langsung antara kedua negara. Kolaborasi antara perusahaan dan instititusi di kedua negara akan meningkatkan transfer ilmu pengetahuan.
 
Sektor ketiga adalah sektor manufaktur. Sektor manufaktur India mengalami pertumbuhan yang sangat besar 9,3 persen pada 2015-2016. Dirasakan dengan pertumbuhan yang kuat, Industri India perlu meningkatkan investasi di sektor manufaktur di Indonesia diantaranya berfokus pada kilang, tekstil dan pengolahan makanan. 
 
Keempat adalah sektor pertanian. Produk pertanian seperti pupuk, peralatan pertanian, pabrik gula dan Research & Development (R&D) teknik pertanian juga dapat menjadi area utama dari kerja sama antara kedua negara. Perusahaan India juga harus mengeksplorasi kemungkinan investasi dalam produksi minyak sawit dan turunannya, mengingat kekurangan minyak nabati yang dialami India saat ini.
 
Kelima adalah sektor farmasi. Perusahaan India bersedia untuk mendukung Indonesia pada skema asuransi kesehatan melalui penyediaan obat-obatan dan pendirian pabrik manufaktur untuk produk farmasi, khususnya untuk produk-produk khusus di mana perusahaan India memiliki keterampilan dan teknologi untuk meningkatkan daya saing  dari sisi biaya produksi. 
 
Untuk memulainya, Indonesia dapat menunjuk badan pusat untuk berkolaborasi dengan Pharmexcil dalam mengidentifikasikan obat-obat yang dapat diimpor. India juga dapat membantu melalui berbagi ilmu pengetahuan terkait integrasi IT dalam sistem pelayanan kesehatan. 
 
Sektor yang keenam adalah sektor jasa. Forum kedua negara merasa bahwa ada kebutuhan untuk mempromosikan hubungan dalam sektor jasa termasuk IT & ITES, pariwisata, kesehatan, jasa keuangan termasuk jasa asuransi dan usaha lainnya dan jasa profesional. Sektor baru seperti hiburan, dan offshoring juga bisa dieksplorasi. 
 
CEO India menyoroti kebutuhan untuk meneliti masalah yang berkaitan dengan pergerakan tenaga kerja, kondisi pekerja dan pengakuan gelar profesional di Indonesia. Mengingat keahlian perusahaan IT India, Forum mengakui kebutuhan untuk ekspor proyek IT India ke Indonesia.
 
Selain mengindentifikasi enam sektor utama, CEO Forum juga mencatat bahwa adanya informasi yang minim terkait opportunity business yang tersedia di masing-masing negara hingga diperlukan hubungan business-to-business yang lebih besar, melalui pertemuan CEO Forum secara regular dan membuat acara promosi perdagangan dan investasi diprakarsai Kadin dan CII. 

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan