Peran perempuan telah bertransformasi dari semula hanya sebagai pendukung ekonomi keluarga, kini menjadi tulang punggung. (Foto: Dok. Kemenkop UKM)
Peran perempuan telah bertransformasi dari semula hanya sebagai pendukung ekonomi keluarga, kini menjadi tulang punggung. (Foto: Dok. Kemenkop UKM)

Perempuan Penggerak Roda Ekonomi Bangsa

Ekonomi Berita Kemenkop UKM
Gervin Nathaniel Purba • 23 April 2019 22:41
Jakarta: Peran perempuan telah bertransformasi dari semula hanya sebagai pendukung ekonomi keluarga, kini menjadi tulang punggung. Hal ini membuat perempuan menjadi sasaran dan segmen khusus dalam hal penguatan karakter sumber daya manusia (SDM) oleh pemerintah.
 
Dalam memperkuat karakter SDM, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) mengembangkan tiga program prioritas. Program tersebut terdiri atas pelatihan kewirausahaan yang di dalamnya termasuk pemasyarakatan kewirausahaan, pelatihan perkoperasian (termasuk koperasi syariah), dan pelatihan vokasional atau keterampilan teknis.
 
Program-program tersebut walaupun tidak secara spesifik menyasar kaum perempuan, tetapi banyak diikuti oleh kaum perempuan. Hal ini membuktikan bahwa para perempuan ingin berperan dalam menunjang ekonomi keluarganya.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mereka juga sadar bahwa perannya dalam menopang perekonomian keluarga sangat penting. “Buktinya, saat ini sudah banyak koperasi yang dikelola, bahkan dimiliki oleh kaum perempuan. Jumlah wirausaha perempuan pun telah meningkat pesat,” kata Deputi Bidang Pengembangan SDM Kemenkop dan UKM Rully Nuryanto, dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa, 23 April 2019.
 
Berbagai koperasi yang dikelola oleh kaum perempuan dinilai banyak yang berhasil. Demikian juga di bidang kewirausahaan. Sudah banyak wirausaha perempuan yang sukses mengungguli laki-laki.
 
Perempuan Penggerak Roda Ekonomi Bangsa
(Foto: Dok. Kemenkop UKM)
 
Kesuksesan tersebut karena Kemenkop dan UKM memberikan pelatihan yang tidak kaku. Artinya, jenis pelatihan yang digelar selaras dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah masing-masing. Dalam melakukan pelatihan, pihaknya juga bersinergi dengan organisasi-organisasi perempuan yang berkembang.
 
Misalnya, belum lama ini dilakukan pelatihan di Banyuwangi sebagai wilayah yang memiliki potensi batik. Sementara untuk daerah pesisir, pelatihan berkaitan dengan penangkapan ikan. Misalnya, pengolahan ikan agar hasil tangkapan mempunyai nilai tambah.
 
Selain itu juga digelar pelatihan menjahit bagi para istri nelayan, dan pelatihan lainnya bergantung potensi yang ada di wilayah tersebut. Di bidang pelatihan kewirausahaan, jumlah pesertanya pun seringkali lebih banyak perempuan dibandingkan laki-laki.
 
Fokus Peningkatan SDM
 
Pelatihan-pelatihan tersebut juga seiring dengan keinginan Presiden RI Joko Widodo untuk lebih meningkatkan dan pembangunan kualitas SDM. Tahun ini, pengembangan kewirausahaan akan menyasar 8.790 calon wirausaha melalui pemasyarakatan kewirausahaan, pelatihan kewirausahaan, pelatihan technopreneur, dan kewirausahaan sosial.
 
Tak hanya itu, pihaknya pun akan melakukan peningkatan kualitas SDM KUKM bagi 3.500 pelaku UMKM melalui pelatihan vokasi. Untuk 2019, Deputi bidang Pengembangan SDM juga akan meningkatkan pengembangan SDM usaha mikro dan kecil bagi 500 pemuda melalui fasilitasi magang.
 
“Kami akan menggelar program magang di lima provinsi, yaitu Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Yogyakarta, Sumatera Utara, dan Sumatera Selatan. Masing-masing provinsi sebanyak 100 orang,” tutur Rulli.
 
Perempuan Penggerak Roda Ekonomi Bangsa
(Foto: Antara/Moko Juliyanto)
 
Program tersebut selama ini banyak diikuti oleh kaum perempuan. Seiring waktu, peran perempuan dalam banyak hal kini telah sejajar dengan laki-laki, termasuk dalam perekonomian.
 
Hal ini diamini oleh Anggota Komisi IX DPR RI Rahayu Saraswati. Dia menjelaskan saat ini peran perempuan sebagai penggerak ekonomi sangat besar. Hal ini seiring dengan meningkatnya jumlah perempuan sebagai kepala rumah tangga dan banyaknya kaum perempuan yang berusaha di sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
 
Banyaknya perempuan pelaku UMKM tersebut tidak akan berdampak signifikan tanpa adanya pelatihan dan pendampingan dari pemerintah. Hal ini penting agar para perempuan bisa lebih berkembang dari segi ekonomi, sehingga perempuan bisa menjadi kontributor ekonomi keluarga dan tentunya secara tidak langsung ekonomi bangsa.
 
Sementara itu, Ketua Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Giwo Rubianto mengatakan, kemajuan kaum perempuan dari sisi ekonomi tersebut tak lepas dari jasa RA Kartini. Karena itu, apa yang telah dilakukan oleh pahlawan perempuan Indonesia pada masa lalu, salah satunya Kartini, harus mendapat apresiasi dari para perempuan masa sekarang.
 
Walaupun posisinya sudah sejajar dengan laki-laki, hingga saat ini masih banyak perempuan yang belum berani dan mandiri di segala bidang, termasuk ekonomi.
 
"Berdasarkan hasil riset kami di Kowani, masih banyak kaum perempuan yang takut berperan aktif dalam berbagai bidang. Baru sekitar 30 persen yang mandiri dan berani berbisnis secara mandiri," kata Giwo.
 
Menurut Giwo, banyak hal-hal yang mengakibatkan perempuan tidak berani dan mandiri, di antaranya terkait regulasi hukum yang menjamin hak dan keamanan perempuan masih belum dijalankan dengan baik. Kemudian budaya dan tradisi yang kadang menjebak ruang gerak perempuan.
 
Sebagai sebuah organisasi yang fokus memperjuangkan hak-hak perempuan, Kowani sering melakukan pendampingan, di antaranya dari segi peningkatan ekonomi. Apalagi hari ini perkembangan ekonomi juga dipengaruhi perkembangan industri 4.0.
 
"Kowani bukan hanya memberikan edukasi, tapi juga memediasi dan memfasilitasi. Contohnya para pedagang. Dalam menyambut industri 4.0 mereka tidak memiliki toko, tapi kami edukasi bagaimana caranya berjualan online. Kami juga ada KowaniTV yang nantinya bisa memfasilitasi produk-produk dari wirausaha perempuan," kata Giwo.
 

(ROS)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif