Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)

Menperin Dorong Daur Ulang Plastik

Ekonomi kementerian perindustrian chandra asri petrochemical Industri Plastik
Nia Deviyana • 16 April 2019 13:14
Tangerang Selatan: Industri petrokimia berperan penting dalam memenuhi kebutuhan produksi di sektor manufaktur. Namun, untuk mengembangkannya dibutuhkan waktu yang tidak sebentar.
 
Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto menuturkan salah satu cara untuk mempercepat perkembangan industri petrokomia adalah dengan mendaur ulang plastik.
 
"Mempercepat petrokimia itu enggak seperti bikin pabrik tahu. Jadi butuh waktu empat tahun. Nah, salah satu yang mempercepat itu adalah mendorong sirkulasi ekonomi dengan recycle plastik," ujar Airlangga di ICE BSD, Tangerang Selatan, Selasa, 16 April 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia menambahkan kebutuhan industri petrokimia terhadap plastik kurang lebih lima juta ton yang akan digunakan untuk mengembangkan industri konstruksi dan otomotif.
 
"Sekarang yang lima juta ton kan baru dipenuhi oleh Chandra Asri sebanyak satu juta ton, Lotte Chemical Titan satu juta ton. Sisanya impor. Nah daripada kita impor terlalu banyak, kan mending recycle saja, karena recycle saat ini baru 10 persen," jelas dia.
 
Ketua Umum Partai Golkar tersebut memiliki target untuk meningkatkan daur ulang plastik menjadi sebesar 25 persen. "Karena kalau jumlah recycle-nya rendah, implementasinya kurang dari satu tahun," imbuhnya.
 
Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Achmad Sigit Dwiwahjono sebelumnya menjelaskan dengan sifatnya yang padat modal, padat teknologi, dan lahap energi, industri petrokimia merupakan salah satu sektor hulu yang menyediakan bahan baku untuk hampir seluruh sektor hilir, seperti industri plastik, tekstil, cat, kosmetik hingga farmasi.
 
Sehingga keberlanjutan dalam pembangunan industri petrokimia sangat penting bagi aktivitas ekonomi. Sigit menyampaikan, Chandra Asri selaku industri nasional, akan menggelontorkan dananya sebesar USD6 miliar sampai 2021 dalam rangka peningkatan kapasitas produksi.
 
"Pada 2017, Chandra Asri berinvestasi sebesar USD150 juta untuk menambah kapasitas butadiene sebanyak 50 ribu ton per tahun dan polyethylene 400 ribu ton per tahun," tuturnya.
 
Selain itu, industri petrokimia asal Korea Selatan, Lotte Chemical Titan akan merealisasikan investasinya sebesar USD3 miliar-USD4 miliar untuk memproduksi nafta cracker dengan total kapasitas sebanyak dua juta ton per tahun. Bahan baku kimia tersebut diperlukan untuk menghasilkan ethylene, propylene dan produk turunan lainnya.
 
Dengan tambahan investasi Lotte Chemical dan Chandra Asri tersebut, Indonesia akan mampu menghasilkan bahan baku kimia berbasis nafta cracker sebanyak tiga juta ton per tahun. Bahkan, Indonesia bisa memposisikan sebagai produsen terbesar ke-4 di ASEAN setelah Thailand, Singapura, dan Malaysia.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif