Ilustrasi. (FOTO: Media Indonesia)
Ilustrasi. (FOTO: Media Indonesia)

Pemerintah Pacu Hilirisasi Industri Cokelat

Ekonomi cokelat Hilirisasi Industri
Ilham wibowo • 12 Februari 2019 11:21
Jakarta: Nilai tambah bahan baku di dalam negeri bakal terus ditingkatkan dengan pengembangan hilirisasi di sektor industri. Salah satu sektor prioritas yang sedang dipacu yakni industri kakao sebagai bahan dasar olahan cokelat.
 
"Guna mencapai sasaran tersebut, diperlukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten di bidang perkakaoan," kata Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto melalui keterangan resmi, Selasa, 12 Februari 2019.
 
Pusat Pengembangan Kompetensi Industri Pengolahan Kakao Terpadu (PPKIPKT) di Batang, Jawa Tengah saat ini telah resmi berjalan. Fasilitas ini wujud nyata dari implementasi amanat Presiden Joko Widodo yang menginginkan perguruan tinggi dapat mendukung dan terlibat langsung dalam aktivitas industrialisasi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Upaya ini sebagai pengantar agar bangsa Indonesia siap memasuki era industri 4.0," kata Airlangga.
 
PPKIPKT merupakan pabrik pengolahan kakao pertama di Indonesia yang terintegrasi dengan kebun kakao dan sekaligus menjadi pusat pengembangan SDM di bidang kakao. Program ini dibangun sejak 2017 melalui kerja sama antara Kementerian Perindustrian dengan Pemerintah Kabupaten Batang dan Universitas Gadjah Mada (UGM).
 
"Ini menjadi sarana dan prasarana yang kita harapkan dapat menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat baik melalui penciptaan wirausaha baru maupun menyediakan SDM yang siap bekerja di bidang industri pengolahan kakao," paparnya.
 
Airlangga menambahkan berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0, industri makanan dan minuman telah ditetapkan menjadi salah satu sektor unggulan dalam penerapan digitalisasi. Ia optimistis produk kakao olahan dari dalam negeri dapat diminati pasar global. Apalagi seiring perkembangan zaman cokelat sudah menjadi kebutuhan gaya hidup masyarakat.
 
"Di Eropa misalnya, ketika minum kopi, lebih afdol sambil makan cokelat. Kami mengapresiasi di cacao teaching industry ini, mesin-mesin pengolahannya sudah menggunakan 90 persen komponen dari dalam negeri," ujarnya.
 
Adapun lokasi PPKIPKT berada di Desa Wonokerso, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang, Jawa Tengah yang mempunyai area pabrik seluas 9.000 m2 dengan terdiri dari bangunan seluas 2.590m2. Fasilitas ini dilengkapi mesin dan peralatan industri pengolahan kakao berkapasitas 6.000 ton per tahun dengan nilai investasi sebesar Rp89,9 miliar.
 
Menurut Airlangga, PPKIPKT akan dihibahkan kepada UGM untuk pengembangan SDM. Kemudian kegiatan penelitian dan pendidikan bidang kakao bakal dioperasikan oleh PT Pagilaran sebagai unit usaha milik UGM.
 
"Kami berharap kepada PT Pagilaran agar lebih aktif menjalin kemitraan dengan petani kakao," tuturnya.
 
Koordinasi dengan Kementerian Pertanian juga dilakukan guna menggenjot produksi kakao baik melalui program ekstensifikasi atau intensifikasi maupun rehabilitasi. Hal ini sejalan upaya pemerintah untuk mendongkrak utilitas sektor industri pengolahan kakao yang saat ini kapasitas produksinya mencapai 747 ribu ton per tahun.
 
 
 
(AHL)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif