Pabrik Semen Tonasa. ANTARA FOTO/Eric Ireng.
Pabrik Semen Tonasa. ANTARA FOTO/Eric Ireng.

Strategi Semen Tonasa Hadapi Persaingan Bebas ASEAN

Dian Ihsan Siregar • 21 Mei 2016 12:44
medcom.id, Makassar: Dalam ajang Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)‎ banyak perusahaan asing yang menawarkan harga produk cenderung lebih murah, bila dibanding produk dari lokal. PT Semen Tonasa memiliki cara sendiri agar produk perseroan tetap dibeli dan dipercayai oleh semua konsumen yang sudah ada.
 
P‎emain asing yang ingin mengambil pasar perseroan pada saat ajang pasar bebas dengan menawarkan harga murah, m‎enurut Direktur Utama Semen Tonasa Unggul Attas, tidak bisa mengalahkan strategi perseroan dalam menjual hasil produksi yang dimiliki.
 
"Mereka tanpa memikirkan keuntungan pada saat menjual, kita hitung-hitungan saja mereka yang supply, tentu strategi yang kita lakukan adalah melawan pendatang baru, masyarakat baru itu ingin semen untuk yang terkuat, bukan yang termurah, karena tidak mau kan ambruk (rumah) cepat," ucap Unggul, ‎ditemui di kantor pusat Semen Tonasa, Pangkep, Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (21/5/2016).

Unggul menguraikan, ada dua hal yang akan dijalankan perusahaan agar bisa bersaing. Pertama, meningkatkan terus menerus brand image yang sudah dijaga baik dari awal pembentukan dan pendirian perseroan. 
 
Strategi Semen Tonasa Hadapi Persaingan Bebas ASEAN
semen tonasa
 
Menurut dia brand image yang dilakukan, dengan menjaga terus kestabilan supply dan kepuasan konsumen. Dengan keadaan itu, maka distribusi semen akan tetap berjalan baik. Jangan sampai konsumen mencari barang tidak ada. ‎
 
"Dengan brand image kuat, maka harga akan lebih mahal," tutur Unggul.
 
Proses kedua yang dilakukan agar bisa bersaing adalah menjalankan efisiensi dan inovasi. Hal itu membuat perseroan berpikir keras untuk meningkatkan profit, tanpa menekan harga jual yang sudah ada di pasar. 
 
"Itu terus kita lakukan, agar bisa menjaga disparitas harga. Harganya dari Tiongkok (semen) itu beda Rp10 ribu lebih murah dari kita. Kita di pasar memang termahal. Tapi kita masih tetap percaya, dengan hasil kerja keras yang dilakukan. Salah satunya tadi, dengan brand image kuat, maka harga akan lebih mahal," tutup Unggul.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan