Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. FOTO: Kementerian Perindustrian
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. FOTO: Kementerian Perindustrian

Pemberian KUR Difokuskan ke Penghasil Substitusi Impor

Ekonomi kur
Ilham wibowo • 13 November 2019 10:14
Jakarta: Fasilitas program Kredit Usaha Rakyat (KUR) bakal lebih banyak diberikan kepada pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Langkah ini diyakini bakal mendongkrak produktivitas dan daya saing produk di Tanah Air.
 
"KUR ini memang dibutuhkan dan telah dirasakan manfaatnya, kami akan memfokuskan atau prioritaskan kedepannya kepada kegiatan-kegiatan IKM yang bisa mendorong substitusi impor dan berorientasi ekspor," kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita, melalui keterangan resminya, di Jakarta, Rabu, 13 November 2019.
 
Menurut Agus pihaknya bersama pemangku kepentingan terkait bakal aktif memberikan akses kemudahan pembiayaan bagi pelaku IKM nasional. Apalagi, selama ini Kemenperin telah mendorong penyaluran KUR kepada sektor yang produktif, termasuk IKM.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami juga mengharapkan agar pelaku IKM kita dapat berperan masuk dalam rantai pasok manufaktur mulai tingkat nasional hingga global. Hal ini tentunya bisa memacu kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian nasional dan memperbaiki neraca perdagangan kita saat ini," papar Agus.
 
Kelompok IKM tercatat merupakan sektor mayoritas dari populasi industri di Indonesia, yang selama ini berperan sebagai tulang punggung perekonomian nasional. Jumlah IKM hingga kini telah melampaui 4,4 juta unit dan menyerap tenaga kerja lebih dari 10,1 juta orang.
 
Adapun berbagai upaya yang telah dijalankan oleh pemerintah untuk meningkatkan akses pembiayaan terhadap IKM, antara lain melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB), Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), dan Pemodalan Nasional Madani (PNM).
 
"Kami juga melakukan edukasi teknologi pembayaran, seiring dengan semakin banyaknya platform pembiayaan nontunai atau digitalisasi pembayaran," imbuhnya.
 
Sementara itu Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih menyampaikan, pihaknya berharap perkembangan e-commerce akan menjadi gerbang bagi pelaku IKM dalam negeri untuk melakukan transformasi dengan menggunakan alat promosi digital, sistem informasi digital, pembayaran digital, serta manajemen relasi.
 
"Dalam era digital seperti sekarang, transisi proses jual beli konvensional menjadi jual beli online semakin berkembang. Tidak hanya untuk produk berupa barang, bahkan jasa. Karena itu kami melihat industri e-commerce menjanjikan potensi pasar yang sangat besar," paparnya.
 
Gati menambahkan, untuk membantu para pelaku IKM dalam menangkap peluang sekaligus menghadapi tantangan saat munculnya banyak e-Commerce, sejak 2017, Kemenperin telah meluncurkan program e-Smart IKM yang melibatkan marketplace digital di Tanah Air sebagai salah satu infrastruktur pendukung.
 
"Kami telah melaksanakan workshop e-Smart IKM yang diikuti sebanyak 10.038 peserta, dan hingga saat ini total transaksi penjualan yang dihasilkan mencapai Rp3,27 Miliar," pungkasnya.

 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif