Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi Lukman. Foto : Medcom/Ilham W.
Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi Lukman. Foto : Medcom/Ilham W.

Pertumbuhan Industri Makanan dan Minuman Stagnan di 2020

Ekonomi industri makanan
Ilham wibowo • 11 November 2019 19:59
Jakarta: Pelaku industri makanan dan minuman Indonesia mengaku tidak yakin bahak meraup angka pertumbuhan hingga dua angka pada 2020. Proyeksi diupayakan tetap sama dengan kinerja 2019.
 
"Meski saya tidak yakin bisa double digit tahun depan, tapi paling tidak 8-9 persen masih bisa tercapai," kata Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi Lukman ditemui di perkantoran Kemenperin, Jakarta, Senin, 11 Oktober 2019.
 
Angka delapan persen merupakan target pertumbuhan industri Mamin pada 2019 yang turun dari proyeksi awal di angka sembilan persen. Kinerja ekspor dinilai menjadi kendala yang membuat pertumbuhan itu tersendat.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tentu kita terus berupaya untuk meningkatkan dengan melakukan inovasi, pameran dan sebagainya. Dengan peningkatan ekspor pemerintah perlu mendorong untuk negosiasi bilateral antara suatu negara dgn negara lain karena ini yang saya lihat paling efektif untuk tingkatkan ekspor," ujarnya.
 
Adhi mengatakan ekspor produk Mamin asal Tanah Air untuk pemenuhan masyarakat di negara maju masih kalah dibanding produk dari negara seperti Vietnam dan Thailand. Dari besar serapan produk yang ada, produk Indonesia hanya kebagian tujuh persen.
 
"Saya mempelajari data impor dari beberapa negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Amerika Utara, Amerika Selatan, Afrika, Eropa, Australia dan saya melihat impor mereka di makanan minuman sangat tinggi sekali," ungkapnya.
 
Adhi mengharapkan upaya pemerintah yang terus mendorong hadirnya peningkatan ekspor bagi industri prioritas seperti mamin bisa segera terimplementasi dengan baik. Satu di antara program percepatan dalam meningkatkan kinerja ekspor yakni dengan merevisi regulasi yang menghambat.
 
"Kita berharap tahun depan harusnya bisa lebih tinggi, presiden sudah menginstruksikan dan banyak sekali yang perlu kita garap termasuk pemberian insentif vokasi, inovasi dan lain lain. Pemerintah perlu memberikan dorongan bagi industri Mamin supaya bisa tumbuh lebih cepat lagi," ujarnya.
 
Beban biaya yang dikeluarkan pelaku usaha juga perlu dilakukan dengan sangat efisien dan efektif. Menurut Adhi, tantangan lain yang masih menjadi beban pengusaha yakni di sektor logistik.
 
"Logistik Indonesia yang mahal harus diakui, karena memang kita perlu biaya yang cukup besar untuk logistik," ucap Adhi.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif