Ilustrasi (MI/Bagus Suryo)
Ilustrasi (MI/Bagus Suryo)

APTI Harap Kemitraan Jadi Syarat Izin Impor Tembakau

Ekonomi cukai tembakau cukai tembakau
23 Mei 2019 12:05
Jakarta: Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) mendukung rencana pemerintah untuk mewajibkan importir atau perusahaan rokok membangun kemitraan dengan petani guna mendapatkan izin impor tembakau. Petani meminta kemitraan menjadi prasyarat utama bagi importir tembakau untuk memperoleh Rekomendasi Impor Tembakau (RIT).
 
"Kabarnya saat ini Kementerian Pertanian (Kementan) sedang menyusun aturan RIT. Petani pun sudah diajak berdiskusi untuk dimintai masukan terhadap aturan tersebut," ungkap Ketua Umum APTI Suseno, pada acara Diskusi Industri Hasil Tembakau Sebuah Sebuah Paradoks, seperti dikutip dari Antara, Kamis, 23 Mei 2019.
 
Menurutnya, dengan adanya kemitraan petani dengan pabrik rokok maka ada jaminan harga, kualitas, teknlogi dan pasar tembakau dari perusahaan mitra. Dia menambahkan, pabrik rokok bisa menjamin pasokan karena mengetahui kondisi lahan, kapasitas produksi dan serapan tembakau petani.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Adanya kemitraan diharapkan harga tembakau di tingkat petani akan meningkat," katanya.
 
Dia menjelaskan impor tembakau akan dibatasi menyusul dikeluarkannya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 84 Tahun 2017 tentang Ketentuan Impor Tembakau. “Impor tembakau harus melalui rekomendasi Menteri Pertanian. Konsekuensinya Kementan juga harus membuat aturan teknis soal rekomendasi impor tembakau,” tukasnya,
 
Suseno menyatakan ada tiga jenis tembakau yang biasa diimpor oleh Indonesia yakni Virginia, Burley dan Oriental. Ketiga jenis tembakau ini sangat dibutuhkan oleh pabrik rokok. "Produksi Burley dan Oriental dalam negeri sedikit sekali. Sementara itu, jenis Burley hanya ditanam di daerah Lumajang sekitar 900 hektare (ha)," ujarnya.
 
Sedangkan jenis Oriental diproduksi sedikit di Madura, kemudian Virginia di Lombok dengan luas tanam hanya sekitar 23.000-26.000 ha dari sebelumnya 65.000 ha.
 
“Saat ini sedang digodok model kemitraan petani tembakau oleh Kementan. Meskipun di lapangan model kemitraan di sentra tembakau berbeda-beda. Diharapkan aturan kemitraan nantinya bisa diterapkan di semua sentra tembakau,” katanya.
 
Luas lahan tembakau nasional 206.514 ha dengan produksi 198.295 ton. Sementara itu, produksi rokok 340 miliar batang. Artinya dibutuhkan 340.000 ton tembakau. “Dan sisa kekurangannya dipenuhi dari impor,” pungkass Suseno.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif